Faktaindonesianews.com – Indonesia kembali diramaikan oleh karya horor-komedi baru karya Falcon Pictures, Kang Solah From Kang Mak × Nenek Gayung.
Film ini merupakan spin-off sekaligus kelanjutan dari Kang Mak from Pee Mak (2024), membawa kembali karakter Kang Solah dan sahabat-sahabatnya ke panggung cerita horor yang dibalut tawa jenaka.
Sinopsis
Tokoh utama adalah Solah Vincenzio (diperankan oleh Rigen Rakelna), yang setelah berpetualang dan “berjuang”, pulang ke kampung halamannya bersama tiga sahabatnya: Fajrul (Indra Jegel), Jaka (Tora Sudiro), dan Supra (Indro Warkop).
Harapannya ia disambut seperti pahlawan; kenyataannya ia malah dikira hantu oleh warga desa. Tambah sakit hati ketika perempuan pujaannya sejak lama, Dara Gonzales (Davina Karamoy), ternyata akan menikah bukan dengannya melainkan dengan adiknya sendiri, Iqbal (Kenzy Taulany).
Ketegangan makin terasa ketika Nenek Gayung, roh pemandi jenazah legendaris, muncul dan mulai meneror pernikahan Dara dan Iqbal. Untuk menghentikannya, Solah dan kawan-kawannya harus menghadapi teror tersebut, dan meminta bantuan dari Kang Mas Pusi (Andre Taulany).
Pemain & Kru
Berikut beberapa nama penting yang membuat film ini jadi menarik:
- Rigen Rakelna sebagai Solah Vincenzio
- Davina Karamoy sebagai Dara Gonzales — cinta lama Solah
- Kenzy Taulany sebagai Iqbal
- Asri Welas sebagai Nenek Gayung, versi baru dari karakter hantu pemandi jenazah yang terkenal urban legend-nya di Indonesia.
- Komedian dan aktor senior seperti Indro Warkop, Tora Sudiro, Indra Jegel, Andre Taulany juga ikut memperkuat unsur komedi film ini.
Sutradara: Herwin Novianto, skenario oleh Alim Sudio.
Keunikan & Daya Tarik
- Crossover & Spin-off
Film ini adalah crossover antara dua IP populer, Kang Mak dan Nenek Gayung, yang selama ini sudah lekat di budaya horor urban legend Indonesia. Gabungan karakter-karakter ini memberikan daya tarik baru. - Genre yang Seimbang
Meski horor (teror Nenek Gayung) menjadi bagian penting, film ini tetap mengedepankan komedi dan unsur kekeluargaan. Jadi bukan hanya menakutkan, tapi juga bisa mengundang tawa dan seringkali absurd. - Musik & Soundtrack yang Nostalgik
Salah satu fitur uniknya adalah penggunaan lagu lawas “Senyum Membawa Luka” karya Meggy Z (1987), yang diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh para pemain sebagai OST. Ini menambah dimensi emosional dan nostalgia. - Visual & Atmosfer Lokal
Lokasi syuting di Garut, Jawa Barat, serta desain produksi yang memasukkan elemen desa dan budaya lokal, memberi nuansa yang lebih nyata dan dekat dengan penonton. - Cocok untuk Penonton Remaja ke Atas
Berdasarkan Lembaga Sensor Film, film ini diklasifikasikan untuk usia 13 tahun ke atas. Meskipun ada elemen horor, film ini dirancang supaya tetap bisa dinikmati secara keluarga (terutama oleh remaja yang suka horor-komedi).
Tantangan & Kritik Potensial
- Beberapa media mengkritisi bahwa alur cerita terkadang melompat-lompat, membuat beberapa momen penting terasa kurang emosional.
- Unsur horor-nya mungkin tidak terlalu dalam atau menakutkan jika dibandingkan dengan film horor murni — tapi ini memang bukan niat utama, karena fokus film lebih ke horor yang diringankan dengan komedi.
Kenapa Harus Ditonton?
- Kalau kamu suka film yang bisa bikin tertawa sambil sedikit merinding, film ini kombinasi yang pas.
- Karakter-karakternya beragam dan banyak yang sudah dikenal, jadi ada interaksi yang menarik antara aktor senior dan pendatang baru.
- Ada elemen nostalgia lewat musik dan urban legend, yang bikin film ini tidak cuma tontonan ringan, tapi juga punya kekayaan budaya lokal.
- Cocok ditonton bareng teman atau keluarga, khususnya yang suka campuran komedi & horor ringan.






