Kerja Sama Bandung–Kawasaki Beri Dampak Nyata, Proyek BKG Dorong Perbaikan Lingkungan Air

Kerja Sama Bandung–Kawasaki Beri Dampak Nyata, Proyek BKG Dorong Perbaikan Lingkungan Air

Bandung, Faktaindonesianews.com – Kerja sama internasional antara Kota Bandung dan Kota Kawasaki, Jepang, dalam upaya perbaikan lingkungan air terus menunjukkan hasil yang signifikan. Kolaborasi teknis yang dikenal dengan nama BKG (Bandung City and Kawasaki City Gesuido Project) dinilai berhasil meningkatkan kapasitas pemerintah daerah sekaligus kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan air limbah domestik.

Hal tersebut disampaikan Manajer Unit Promosi Proyek Internasional Kota Kawasaki, Misu Yukihiko, dalam pemaparan capaian proyek di Pendopo Kota Bandung, Rabu 21 Januari 2026. Dalam paparannya, Misu menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi Kota Bandung terkait pengelolaan air limbah rumah tangga.

Bacaan Lainnya

Saat ini, lebih dari 80 persen wilayah Kota Bandung masih bergantung pada sistem perpipaan air limbah dan septic tank. Namun, di lapangan masih ditemukan berbagai persoalan, mulai dari sambungan pipa yang tidak terhubung sempurna hingga septic tank yang tidak disedot secara berkala sehingga berpotensi bocor dan mencemari sungai.

“Karena itu, kami menilai peningkatan kepedulian masyarakat menjadi poin penting yang harus dimasukkan dalam proyek ini,” ujar Misu.

Proyek BKG melibatkan sejumlah perangkat daerah strategis di Kota Bandung, seperti DSDABM, DPKP, DLH, serta Perumda Tirtawening. Tujuan utamanya tidak hanya memperbaiki sistem teknis, tetapi juga meningkatkan pengetahuan dan kapasitas staf pemerintah kota, perusahaan daerah, serta masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan air.

Selama tiga tahun pelaksanaan, proyek ini mencatat berbagai aktivitas kolaboratif. Sebanyak 13 kegiatan dilaksanakan di Kota Bandung dengan melibatkan 54 staf Pemkot Kawasaki. Sebaliknya, staf dari Kota Bandung juga mengikuti lima kali pelatihan di Kota Kawasaki dengan total 25 peserta. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 50 pertemuan yang berlangsung di kedua kota.

Dari sisi capaian, proyek ini menghasilkan sejumlah output konkret. Output pertama berupa penyusunan material edukasi bagi staf dan masyarakat, termasuk video serta materi visual dengan karakter khusus agar pesan mudah dipahami. Output kedua berfokus pada peningkatan kapasitas pemangku kepentingan, melalui dua kali pelatihan staf yang diikuti 172 peserta, dengan hasil 84 persen peserta mengalami peningkatan pemahaman.

Sementara itu, output ketiga menyasar langsung masyarakat. Dua kali seminar digelar dengan melibatkan 338 siswa sekolah dasar kelas 4 beserta orang tua mereka. Hasil survei menunjukkan 89 persen peserta mengalami peningkatan pemahaman, dan setelah tiga bulan, 80 persen di antaranya mulai menerapkan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait keberlanjutan program, Misu menekankan pentingnya mekanisme berantai dalam transfer pengetahuan. Staf yang telah dilatih diharapkan mampu melatih rekan lainnya, kemudian diteruskan kepada masyarakat secara luas. Ke depan, terdapat tiga fokus utama yang akan terus dikembangkan, yakni pelatihan berkelanjutan bagi staf, penguatan kapasitas di tingkat distrik, serta penyediaan material edukasi untuk pembelajaran di sekolah dasar.

Pos terkait