Bandung, Faktaindonesianews.com – Di negeri yang hukum disebut panglima, rakyat justru makin sering jadi korban. Ketika uang barang bukti bisa dibagi di meja aparat penegak hukum seperti dalam kasus Jaksa Iwan Ginting senilai ratusan juta rupiah publik mulai bertanya: apakah hukum masih suci, atau sudah tercampur dengan gula dan kopi?
Lebih tragis lagi, pelaku hanya dimutasi, bukan dihukum. Dan di situlah rakyat sadar yang ditegakkan di negeri ini bukan keadilan, melainkan gelas kopi di atas meja kekuasaan.
Keadilan yang Jadi Dekorasi Kantor
Indonesia tak kekurangan hukum; yang langka justru manusia berhati hukum. Pasal demi pasal tersusun rapi, lembaga pengawasan berdiri megah, tapi kejujuran terkapar di pojok ruang sidang.
Rakyat kecil yang telat bayar pajak segera diadili, tapi aparat berseragam yang menggelapkan uang sitaan malah dapat surat “evaluasi.”
Kita hidup dalam sistem yang pandai membuat slogan keadilan, tapi gagap saat menegakkannya.
Ketika pelanggaran menjadi kebiasaan, dan kebiasaan dibiarkan menjadi budaya, maka keadilan berubah jadi dekorasi kantor indah di dinding, tapi hampa di hati.
Kita Pernah Punya Teladan Tapi Kini Kita Kehilangan Mereka Bangsa ini pernah punya penegak hukum sejati.
Ada Burhanuddin Lopa, Jaksa Agung yang menantang arus korupsi sampai akhir hayatnya.
Ada Soeprapto, Jaksa Agung di masa Soekarno, yang menegakkan hukum dengan nurani, bukan instruksi politik.
Dan ada KH. Idham Chalid, politisi dan ulama yang tetap hidup sederhana meski duduk di kursi kekuasaan membuktikan bahwa integritas tak butuh kekayaan.
Mereka bukan malaikat, tapi mereka tidak memperdagangkan nurani. Kini, ketika nama-nama seperti itu tinggal sejarah, kita justru menyaksikan pejabat yang berlomba-lomba memperindah citra, bukan memperbaiki karakter. Rumah megah, rekening tebal, tapi hati keropos — itulah wajah sebagian penegak hukum kita hari ini.
Menegakkan Nurani Sebelum Menegakkan Hukum
Hari Jumat semestinya menjadi cermin bagi semua yang berseragam.
Apakah hukum masih dijaga dengan iman, atau dijalankan dengan pesanan?
Apakah rasa malu masih hidup, atau sudah mati bersama amplop yang ditandatangani?
Reformasi hukum tanpa reformasi moral hanyalah hiasan kosmetik di atas wajah busuk.
Negeri ini tak butuh seribu aturan baru; yang dibutuhkan adalah satu keberanian — untuk jujur.
Untuk menolak sogokan, menolak kompromi, dan menolak berpura-pura bersih di tengah kebusukan.
Menyalakan Kembali Keberanian yang Padam
Bangsa ini pernah punya Lopa, Soeprapto, Idham Chalid nama-nama yang membuktikan bahwa kejujuran adalah bentuk tertinggi dari ibadah. Kini, tugas kita bukan sekadar mengenang, tapi menyalakan kembali keberanian yang nyaris padam.
Jumat Berkah bukan soal panjangnya doa di masjid, tapi tentang keteguhan menolak menjadi bagian dari kebohongan.
Sebab keadilan bukan datang dari langit, ia tumbuh dari manusia yang berani jujur — meski sendirian.djohar






