Krisis Sampah Bandung di Titik Penentuan, Wali Kota Farhan Dorong Perubahan Paradigma Warga

Krisis Sampah Bandung di Titik Penentuan, Wali Kota Farhan Dorong Perubahan Paradigma Warga

Bandung, Faktaindonesianews.com – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa persoalan sampah menjadi tantangan paling krusial yang saat ini dihadapi Kota Bandung. Ia menyebut kondisi sekarang sebagai momen penentuan yang akan menentukan apakah Bandung mampu keluar dari krisis sampah atau justru semakin terjebak dalam masalah lingkungan yang berkepanjangan.

Pernyataan tersebut disampaikan Farhan saat memberikan arahan di Plaza Balai Kota Bandung, Senin, 12 Januari 2026. Menurutnya, situasi pengelolaan sampah di Kota Bandung tidak bisa lagi ditangani dengan cara-cara lama yang hanya mengandalkan pengangkutan ke tempat pembuangan akhir.

Bacaan Lainnya

Farhan mengungkapkan bahwa kuota pengiriman sampah ke TPA Sarimukti saat ini mengalami pengurangan. Kondisi tersebut semakin mempersempit ruang gerak Kota Bandung dalam membuang sampah. Namun demikian, Pemerintah Kota Bandung memilih tidak menunggu keputusan lanjutan terkait kebijakan tersebut dan langsung mengambil langkah antisipatif.

Langkah utama yang kini ditekankan adalah edukasi pemilahan sampah sejak dari tingkat rumah tangga. Pemkot Bandung berencana merekrut 1.597 petugas yang akan ditempatkan di setiap RW. Para petugas ini akan berperan aktif mendampingi warga dalam mengelola dan memilah sampah secara berkelanjutan.

“Paradigma lama harus kita ubah. Sampah tidak cukup hanya diangkut, tetapi harus habis dan diolah hari itu juga,” tegas Farhan.

Ia menjelaskan bahwa selama ini pengelolaan sampah di Bandung terlalu berfokus pada proses pengangkutan. Akibatnya, masyarakat cenderung merasa persoalan sampah selesai hanya dengan membayar retribusi. Menurut Farhan, pola pikir tersebut sudah tidak relevan dengan kondisi lingkungan saat ini yang semakin kompleks.

Farhan menilai pemilahan sampah sebagai langkah paling sederhana, tetapi juga paling menentukan. Ia memberi contoh bagaimana satu jenis makanan dapat menghasilkan beberapa jenis sampah, mulai dari sisa organik, kemasan plastik, hingga pembungkus kertas, yang seharusnya dipisahkan sejak awal di rumah.

Ia tidak menutup mata bahwa perubahan kebiasaan ini tidak mudah dan tidak memberikan hasil instan. Namun, Farhan meyakini bahwa perubahan paradigma masyarakat merupakan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persoalan sampah secara berkelanjutan.

“Ini bukan pekerjaan satu atau dua tahun. Ini pekerjaan peradaban,” ujarnya menegaskan.

Pos terkait