Berita FaktaindonesiaNews.com, BANDUNG : – Pembiayaan sebesar Rp 3,75 triliun dapat membangun infrastruktur penyediaan air minum melalui keran bagi sekitar 350.000 pelanggan di Bandung, Jawa Barat. Proyek yang sudah merampungkan studi kelayakan ini di targetkan selesai pada 2027.
Dalam World Water Forum atau Forum Air Sedunia ke-10, Direktur Utama PT Danareksa (Persero) Yadi Jaya Ruchand mengumumkan pembentukan konsorsium dengan PT CITIC Envirotech Indonesia dan SUEZ (Singapore) Services Pte Ltd untuk membangun sistem pengelolaan air minum (SPAM).
Konsorsium ini juga selaras dengan program Indonesia Water Fund yang menargetkan pembangunan 40 juta akses air bersih bagi penduduk Indonesia.
Bekerja Sama Dengan Perumda Tirtawening
Konsorsium tersebut bekerja sama dengan Perumda Tirtawening, Kabupaten Bandung. Secara simbolis, Yadi menyerahkan dokumen studi kelayakan proyek pembangunan SPAM untuk warga Bandung kepada Direktur Utama Perumda Tirtawening Sonny Salimi.
”Langkah ini menjadi awal untuk mewujudkan penyediaan akses air minum sebesar 100 persen di Bandung. Tidak mudah memompakan air dari (Waduk) Saguling ke Bandung,” ujar Sonny di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Senin (20/5/2024).
Menurut rencana, proyek itu akan membangun water treatment plan dengan kapasitas 3.500 liter per detik sehingga air dari Waduk Saguling dapat di alirkan ke rumah warga.
Selain itu, terdapat pembangunan reservoir atau tempat penampungan cadangan air berkapasitas 30.000 meter kubik.
Proyek tersebut turut membangun jaringan pipa dengan diameter 1,67 meter untuk mengalirkan air minum. Oleh sebab itu, dia mengonfirmasi, air keran dari warga yang mendapatkan jaringan perpipaan proyek tersebut dapat diminum.
Layanan distribusi air minum itu menjangkau 16 kecamatan di Bandung. Jumlah ini setara dengan 350.000 pelanggan atau sekitar 60 persen dari total cakupan layanan. Adapun nilai proyek itu Rp 3,75 triliun.
Yadi menyebutkan, proyek konsorsium dengan Perumda Tirtawening dapat rampung 100 persen pada 2027. Pembangunan akan dimulai pada 2024.
Menandatangani heads of agreement bersama CITIC
Dalam kesempatan yang sama, PT Danareksa (Persero) menandatangani heads of agreement bersama CITIC terkait pembangunan wastewater treatment plan (WWTP). Di PT Kawasan Berikat Nusantara, yang mengelola kawasan industri di Cakung, Marunda, dan Tanjung Priok, Jakarta.
Kesepakatan ini menjadi proyek uji coba pembangunan WWTP bawah tanah pertama di Indonesia. WWTP bawah tanah di Guangzhou, Jianxi, China, yang di kerjakan CITIC menjadi acuan.
Terkait kesepakatan itu, Yadi mengatakan, infrastruktur WWTP itu akan berkapasitas 150 liter per detik serta mampu mengolah limbah cair dari semua industri di kawasan tersebut dengan prinsip ekonomi sirkular. Saat ini, nilai proyek tersebut tengah dikaji dan perhitungannya selesai pada triwulan III-2024.
Menyaksikan pengumuman konsorsium dan penandatanganan kesepakatan itu, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara Kartika Wirjoatmodjo menggarisbawahi adanya keterbatasan pendanaan bagi industri air.
”Bayangkan, satu kota saja membutuhkan Rp 3,7 triliun. Di sisi lain, pendanaan untuk industri air kerap terkendala peraturan dan kepastian hukum.
Oleh sebab itu, kita harus riset dan periksa bersama agar skema pendanaan ini memberikan return yang baik dengan risiko terkendali bagi investor pembangunan infrastruktur air,” tuturnya.
Menurut dia, pendanaan untuk infrastruktur air bersifat krusial lantaran demi memastikan akses air bersih bagi masyarakat dari sisi hulu, distribusi, hingga hilir. Harapannya, masyarakat pun mendapatkan layanan tersebut secara efisien dan dengan biaya terjangkau.
Selain itu, terdapat penandatanganan nota kesepahaman antara CITIC dan PT Virama Karya (Persero). Dengan kesepakatan itu, CITIC dapat menunjuk PT Virama Karya (Persero) sebagai konsultan terpilih untuk proyek-proyek di Tanah Air.
Kartika menilai, kolaborasi yang terbentuk berpotensi membuahkan pemanfaatan teknologi yang berorientasi pada pengelolaan sumber daya air dengan prinsip kelestarian (sustainability). Langkah ini penting untuk mengatasi permasalahan air bersih di Indonesia.
