Pemkot Bandung Perkuat Sinergi Lindungi Remaja, Dorong Orang Tua Jadi Tameng Utama di Ruang Digital

Pemkot Bandung Perkuat Sinergi Lindungi Remaja, Dorong Orang Tua Jadi Tameng Utama di Ruang Digital

Bandung, Faktaindonesianews.com – Pemerintah Kota Bandung menegaskan komitmennya untuk bersinergi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) dalam memperkuat perlindungan remaja di tengah derasnya arus dunia digital. Kolaborasi ini menempatkan orang tua, pendidik, dan masyarakat sebagai tameng utama dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kampanye nasional #SalingJagaTunasBangsa yang digelar Komdigi dan turut dihadirkan di Kota Bandung. Program ini menyoroti posisi remaja yang kini tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi digital, melainkan telah berkembang menjadi kekuatan baru penggerak inovasi Indonesia.

Bacaan Lainnya

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan, pemerintah daerah siap mengambil peran aktif dalam pemerataan implementasi Peraturan Pemerintah tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas) Nomor 17 Tahun 2025. Ia menilai kebijakan nasional tersebut membutuhkan kontribusi nyata dari daerah agar dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi langkah Komdigi yang membawa program edukasi ini langsung ke Kota Bandung. Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk ikut mewujudkan agenda nasional dalam menjaga ruang digital yang aman,” kata Farhan di Hotel Mercure, Jumat, 19 Desember 2025.

Menurut Farhan, tantangan ruang digital tidak bisa dihadapi oleh pemerintah pusat semata. Sinergi lintas sektor, termasuk peran aktif keluarga dan lingkungan pendidikan, menjadi kunci utama melindungi remaja dari berbagai risiko digital.

Senada dengan itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menekankan pentingnya kerja sama kolektif lintas pihak dalam upaya perlindungan remaja. Ia menilai rasa ingin tahu remaja yang tinggi dapat menjadi kekuatan positif jika diiringi pengelolaan risiko yang bijak.

“Rasa ingin tahu remaja sangat tinggi, dan ruang digital bisa menjadi tempat tumbuh yang positif bila risiko dan peluangnya dikelola dengan bijak. Karena itu, orang tua dan pendidik harus ikut bertransformasi mengikuti dinamisnya perkembangan teknologi,” ujar Nezar.

Ia menegaskan, PP Tunas merupakan amanah besar negara dalam melindungi anak dari dampak negatif dunia digital. “PP Tunas adalah amanah besar, dan hanya bisa berhasil jika pemerintah pusat dan daerah bergerak bersama. Dengan kolaborasi yang solid, kita bisa memastikan hadirnya generasi Indonesia yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berani, tangguh, dan aman dari risiko ruang digital,” katanya.

Dukungan juga datang dari industri digital. Head of Public Policy and Government Relations TikTok Indonesia, Hilmi Adrianto, menyatakan keamanan pengguna—terutama remaja—menjadi prioritas utama perusahaan. TikTok, kata dia, menghadirkan berbagai fitur keamanan, edukasi literasi digital bagi remaja dan orang tua, serta kerja sama dengan para ahli dan pemangku kepentingan.

“Kami apresiasi langkah sinergi Komdigi dalam #SalingJagaTunasBangsa demi menciptakan ekosistem digital yang aman dan positif bagi generasi emas Indonesia,” tutur Hilmi.

Upaya penguatan literasi digital juga diperluas melalui kolaborasi dengan komunitas. Platform Lampu.id menggandeng 22 komunitas di Jawa Barat sebagai mitra penggerak untuk mengamplifikasi pesan PP Tunas. Founder Lampu.id, Melissa Wijaya, menilai dunia digital tidak dapat dihindari, sehingga orang tua harus terlibat aktif.

“Tujuannya agar kita tidak hanya berperan mengawasi, tetapi mampu membimbing remaja kita dalam menggunakan platform digital secara sehat dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Pos terkait