Bandung, Faktaindonesianews.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mempercepat upaya penanganan sampah di tengah keterbatasan kuota pembuangan ke TPA Sarimukti. Berdasarkan data terbaru, timbulan sampah Kota Bandung mencapai 1.492 ton per hari, sementara kapasitas tampung Sarimukti hanya 938 ton per hari. Kondisi ini menciptakan gap 554 ton per hari yang harus dikelola langsung di dalam kota.
Meski sejumlah infrastruktur 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sudah beroperasi dengan capaian 207,58 ton per hari, angka tersebut belum mampu menutup seluruh volume sampah yang tidak bisa dikirim ke TPA. Karena itu, Pemkot Bandung memperluas penyelesaian pengolahan hingga level RW, kawasan usaha, dan rumah tangga.
1.597 RW Jadi Garda Terdepan Pengolahan Organik
Sebanyak 1.597 RW kini resmi diaktifkan sebagai simpul pengolahan sampah organik berbasis masyarakat. Setiap RW didukung satu petugas pemilah dan pengolah dengan kapasitas olah 100 kg per hari, membuka potensi pengurangan sampah hingga 159,7 ton per hari.
Petugas RW berfokus pada pemilahan dan pengolahan sampah organik, sehingga tidak menumpuk di TPS, mengurangi bau, dan menghasilkan kompos untuk program Buruan SAE.
Selain itu, Pemkot juga mendorong pengolahan mandiri di sektor usaha—hotel, restoran, perkantoran, ritel—serta rumah tangga, dengan target tambahan 86,72 ton per hari, sehingga sistem kebersihan kota tidak hanya bertumpu pada satu sumber pengolahan.
Penguatan Insinerator Sebagai Hilir, Bukan Pengganti 3R
Untuk residu besar yang tidak bisa ditangani lewat 3R, Pemkot memperkuat operasi insinerator. Namun Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan penggunaan insinerator bukan pengganti edukasi pemilahan sampah di sumber.
“Masalah sampah tidak akan selesai hanya di fasilitas akhir. Karena itu, kami gerakkan 1.597 RW sebagai barisan terdepan pemilahan dan pengolahan dari rumah,” ujar Farhan.
Ia menekankan bahwa keberhasilan sistem kebersihan bukan hanya soal tonase, tetapi pengalaman warga yang merasakan langsung dampaknya.
Bangun Ekosistem Sirkular Kota Lewat Tiga Program Utama
Pemkot Bandung mengorkestrasi tiga program besar yang saling terhubung membentuk sistem sirkular:
-
Kang Pisman – mengurangi, memisahkan, dan memanfaatkan sampah dari sumber.
-
Buruan SAE – kebun kolektif warga yang memanfaatkan kompos dan eco-enzyme dari sampah organik.
-
Dapur Dahsat – penyediaan pangan sehat dan peningkatan gizi keluarga dari hasil kebun warga.
Melalui siklus ini, sampah organik diolah menjadi kompos, dipakai untuk kebun pangan, hasil panennya kembali dikonsumsi keluarga, sekaligus membantu menurunkan risiko stunting.
Penyesuaian Layanan Kebersihan: Penyapuan Dimulai Pukul 04.00 WIB
Agar ritme kebersihan selaras dengan aktivitas warga, jam operasional penyapuan dimajukan menjadi pukul 04.00 WIB. Langkah ini memastikan jalan dan gang sudah bersih sebelum aktivitas masyarakat dimulai.
“Bandung butuh solusi yang sistemik, tegas, dan terukur, serta manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga,” kata Farhan.
Optimisme Penutupan Gap Sampah
Pemkot Bandung optimistis model multi-simpul ini melalui kombinasi infrastruktur kota, RW, pelaku usaha, dan rumah tangga bertahap akan menutup selisih kapasitas pengelolaan sampah harian.
Pendekatan ini bukan hanya memindahkan sampah, tetapi mengelolanya dari sumber, menekan bau, menstabilkan ritme pengangkutan, serta menghadirkan manfaat kesehatan dan ekonomi langsung bagi masyarakat.
“Dengan komitmen pemerintah dan kolaborasi warga, insyaallah Bandung akan semakin bersih, sehat, dan lebih kuat,” tutup Farhan.
