Rais Aam PBNU Bentuk Tim Pencari Fakta di Tengah Polemik Pencopotan Ketum Yahya Cholil Staquf

Rais Aam PBNU Bentuk Tim Pencari Fakta di Tengah Polemik Pencopotan Ketum Yahya Cholil Staquf

Jakarta, Faktaindonesianews.com – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengambil langkah tegas di tengah polemik pencopotan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dengan membentuk tim pencari fakta yang bertugas menginvestigasi berbagai isu yang berkembang di publik. Pengumuman ini disampaikan seusai agenda silaturahmi bersama jajaran Syuriah PBNU dan 36 PWNU di kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (29/11).

Miftach menegaskan bahwa dinamika yang berkembang di masyarakat, baik di media arus utama maupun media sosial, memerlukan perhatian serius. Ia menilai, berbagai informasi yang berseliweran tidak boleh dibiarkan tanpa verifikasi mendalam.

Bacaan Lainnya

“Untuk mendapatkan kesahihan dari berbagai informasi tersebut, kami menugaskan tim pencari fakta melakukan investigasi secara utuh dan mendalam,” ujarnya.

Dipimpin Dua Wakil Rais Aam

Tim pencari fakta ini tidak dibentuk sembarangan. Dua tokoh sentral, yakni KH Anwar Iskandar dan KH Afifuddin Muhajir, ditunjuk sebagai pengarah utama. Keduanya merupakan Wakil Rais Aam PBNU yang dikenal memiliki integritas dan kapasitas dalam menjaga marwah organisasi.

“Wakil Rais Aam PBNU KH Anwar Iskandar dan KH Afifuddin Muhajir akan menjadi pengarah dalam tim pencari fakta,” kata Miftach.

Digitalisasi Digdaya PBNU Dihentikan Sementara

Sebagai bagian dari proses investigasi, Miftach juga memerintahkan penghentian sementara implementasi Digdaya PBNU, sistem digitalisasi data dan persuratan. Kebijakan ini diberlakukan khusus untuk tingkat PBNU, sementara Digdaya untuk PWNU dan PCNU tetap berjalan normal.

“Implementasi digdaya persuratan tingkat PBNU ditangguhkan sampai selesainya proses investigasi,” tegasnya.

Seruan Menjaga Khittah dan Akhlak NU

Di tengah kegaduhan internal ini, Rais Aam kembali mengingatkan seluruh warga NU untuk kembali kepada Khittah Nahdlatul Ulama, yakni menjunjung tinggi akhlak, kejujuran, serta mengutamakan kemaslahatan bersama.

“Semua pihak harus mengedepankan kepentingan bersama, menjaga akhlak mulia, dan menjunjung tinggi kejujuran dalam berpikir, bersikap, dan bertindak,” katanya.

Sebagai penutup, Miftach mengajak seluruh jamaah NU memperbanyak doa agar organisasi terbesar di Indonesia ini menemukan jalan keluar terbaik.

“Mari kita bermunajat kepada Allah SWT agar diberikan jalan keluar terbaik dan paling maslahat bagi Jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Pos terkait