Faktaindonesianews.com – Delegasi dari Rusia dan Ukraina dijadwalkan bertemu di Jenewa, Swiss, Selasa (17/2/2026). Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya diplomatik terbaru untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat tahun dan menimbulkan dampak luas bagi stabilitas kawasan Eropa.
Langkah diplomasi ini kembali menjadi sorotan internasional, terlebih setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan dorongan agar Ukraina segera duduk di meja perundingan. Dalam pernyataannya kepada wartawan di atas Air Force One, Trump menegaskan bahwa negosiasi merupakan jalan terbaik untuk menghentikan konflik berkepanjangan tersebut.
Di sisi lain, Kremlin memastikan bahwa agenda pertemuan di Jenewa akan membahas spektrum isu yang lebih luas dibandingkan pembicaraan sebelumnya di Abu Dhabi pada Januari 2026. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut diskusi kali ini akan menyentuh isu-isu utama, termasuk persoalan wilayah yang selama ini menjadi titik panas konflik.
Menurut Peskov, perundingan membutuhkan kehadiran kepala delegasi Rusia, yakni Vladimir Medinsky. Ia menilai absennya kepala negosiator dalam pertemuan sebelumnya membuat pembahasan tidak maksimal. “Pertemuan kali ini dimaksudkan untuk membahas spektrum pertanyaan yang lebih luas,” ujarnya dalam konferensi pers di Moskow.
Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyampaikan pandangan berbeda. Ia meragukan keseriusan Moskow dalam mencari kompromi. Bahkan menjelang pertemuan di Jenewa, Zelensky menuding pasukan Rusia masih terus melancarkan serangan, yang menurutnya mencerminkan sikap Rusia terhadap upaya diplomatik.
Pertemuan di Jenewa dilaporkan berlangsung tertutup tanpa kehadiran media. Format ini diharapkan memberi ruang bagi kedua pihak untuk berdiskusi lebih terbuka dan fokus pada substansi negosiasi.
Konflik Rusia-Ukraina yang dimulai pada Februari 2022 telah menimbulkan krisis kemanusiaan dan gejolak ekonomi global. Berbagai upaya mediasi sebelumnya belum menghasilkan terobosan signifikan. Karena itu, pembicaraan di Jenewa dipandang sebagai momentum penting untuk mencari solusi diplomatik yang realistis.






