Sutradara Yusron Fuadi Ungkap Pengalaman Kerja bersama Kru Korea Selatan di Film Keadilan (The Verdict)

Sutradara Yusron Fuadi Ungkap Pengalaman Kerja bersama Kru Korea Selatan di Film Keadilan (The Verdict)

Jakarta, Faktaindonesianews.com — Sutradara Yusron Fuadi membagikan pengalaman menariknya saat bekerja dengan kru Korea Selatan dalam produksi film Keadilan (The Verdict). Bagi Yusron, kolaborasi ini bukan hanya soal berbagi kreativitas, tetapi juga tentang belajar sistem kerja yang lebih terstruktur, efisien, dan menghargai kesehatan para pekerja film.

Dalam pernyataannya melalui laman resmi MD Pictures pada Selasa (18/11), Yusron menekankan bahwa produksi film yang sehat dan teratur dapat menjadi standar baru industri film Tanah Air. Ia bahkan menyebut proses syuting The Verdict menjadi salah satu produksi paling ideal karena seluruh kru tetap sehat hingga selesai—tanpa kasus tifus, penyakit yang kerap menyerang pekerja film akibat jam kerja ekstrem.

Bacaan Lainnya

“Dari produksi ini, kita sekaligus bisa mencontoh sebuah bentuk produksi yang sehat. Karena beberapa kru ada dari Korea dan punya jam kerja,” ujar Yusron.

Ia menambahkan bahwa apa yang ia alami membuktikan satu hal penting: film berkualitas tetap bisa dibuat tanpa mengorbankan kesehatan para pekerja.

“Bisa loh bikin film yang entertaining tanpa membuat krunya tipus,” tambahnya.

Disiplin Kru Korea Jadi Pembelajaran Baru

Yusron yang dikenal sebagai filmmaker independen mengakui, pola kerja kru Korea Selatan—yang sangat disiplin dalam pembagian waktu dan fokus pada efisiensi—telah memberi inspirasi baru. Ia berharap pola kerja seperti ini dapat diadopsi lebih luas di Indonesia agar kualitas industri film semakin meningkat tanpa mengorbankan kesejahteraan fisik dan mental kru.

Jam Kerja Industri Film Indonesia Dinilai Berlebihan

Masalah jam kerja panjang bukanlah hal baru di sektor kreatif Indonesia. Secara resmi, aturan jam kerja nasional adalah 40 jam per minggu, yang terbagi menjadi dua skema:

  • 7 jam per hari untuk 6 hari kerja, atau

  • 8 jam per hari untuk 5 hari kerja, sesuai UU Cipta Kerja Pasal 77 dan PP No. 35 Tahun 2021.

Namun praktiknya, kondisi di lapangan jauh berbeda. Berdasarkan survei kepada 401 pekerja film, sekitar 54,11 persen responden mengaku bekerja 16–20 jam per hari saat syuting. Kondisi ini menimbulkan risiko serius, mulai dari kelelahan ekstrem, kecelakaan kerja, hingga penurunan kualitas produksi.

Dorongan Regulasi Baru: Maksimal 14 Jam Per Hari

Pada 2022, Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) bersama Indonesian Cinematographers Society (ICS) menerbitkan dokumen bertajuk Sepakat di 14, yang berisi advokasi pembatasan jam kerja pekerja film.

Kertas posisi tersebut disusun berdasarkan temuan penelitian kepada elemen penting dalam industri film, seperti sutradara, asisten sutradara, art director, production designer, hingga produser. Mereka meminta aturan kerja yang lebih manusiawi dengan batas maksimal 14 jam per hari, termasuk jeda istirahat.

Pos terkait