Jakarta, Faktaindonesianews.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial di panggung internasional. Kali ini, Trump mengancam akan menaikkan tarif impor hingga 200 persen terhadap Prancis jika negara tersebut menolak bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza, sebuah inisiatif yang digagas Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Ancaman tersebut disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan terkait sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menolak undangan Amerika Serikat. Dengan gaya khasnya, Trump menanggapi penolakan itu secara tajam dan bernada personal.
“Dia mengatakan hal itu? Baiklah, tidak ada yang menginginkan dia karena akan lengser sebentar lagi,” ujar Trump kepada awak media pada Selasa (20/1), dikutip dari AFP.
“Saya akan menambah tarif 200 persen untuk wine, sampanye, dan dia akan bergabung. Tapi, dia tak harus bergabung,” lanjut Trump.
Pernyataan tersebut langsung menuai reaksi keras dari pihak Prancis. Seorang pejabat Prancis menegaskan bahwa ancaman tarif dagang sebagai alat tekanan politik merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dan bertentangan dengan prinsip hubungan internasional.
“Ancaman tarif untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri kami tidak dapat diterima dan tidak efektif,” ujar pejabat tersebut.
Prancis sendiri dilaporkan menolak undangan resmi Amerika Serikat untuk menjadi bagian dari Dewan Perdamaian Gaza. Penolakan ini disampaikan secara tertutup, namun dikonfirmasi oleh sumber-sumber yang dekat dengan Presiden Macron. Undangan tersebut disebut datang langsung atas nama Presiden AS Donald Trump.
Meski demikian, Paris memilih untuk tidak memberikan respons terbuka. Sumber diplomatik Prancis menyatakan bahwa negaranya belum berniat memberikan tanggapan positif atas inisiatif tersebut.
“Prancis tidak bermaksud, di tahap ini, memberikan respons yang menguntungkan atas undangan AS,” kata sumber tersebut, dikutip dari Anadolu Agency, Senin (19/1).
Lebih lanjut, sumber itu menyinggung Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai berpotensi dilangkahi oleh pembentukan Dewan Perdamaian Gaza. Menurut Prancis, inisiatif tersebut memunculkan pertanyaan serius terkait legitimasi internasional dan penghormatan terhadap struktur PBB.
“Piagam ini memicu pertanyaan besar, khususnya mengenai penghormatan terhadap prinsip-prinsip dan struktur PBB yang dalam keadaan apa pun tidak boleh dipertanyakan,” imbuhnya.
Sebagai informasi, pekan lalu Amerika Serikat mengusulkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza. Dewan ini dirancang untuk memainkan peran sentral dalam mewujudkan poin-poin perdamaian yang diusulkan Trump, termasuk mengakhiri agresi Israel, memobilisasi sumber daya internasional, serta memastikan akuntabilitas dan tata kelola Gaza di masa transisi.






