Bandung, Faktaindonesianews.com – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menaruh perhatian serius terhadap persoalan sampah yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan utama warga Kelurahan Babakan Ciparay, Kecamatan Babakan Ciparay. Isu krusial ini kembali disorot Farhan saat menghadiri kegiatan Siskamling Siaga Bencana ke-76, pada Rabu, 14 Januari 2026, yang digelar sebagai ruang dialog langsung antara pemerintah dan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Farhan menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak lagi bisa dilakukan secara parsial atau sekadar reaktif. Menurutnya, persoalan sampah di kawasan padat penduduk harus ditangani melalui pendekatan berbasis data, didukung akses infrastruktur, serta kolaborasi lintas sektor agar solusi yang dihasilkan bersifat berkelanjutan.
Salah satu instrumen penting yang disoroti adalah pemanfaatan data LaciRW, yang saat ini tengah diverifikasi bersama Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan resmi dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sampah di tingkat kelurahan hingga kota. “Masalah sampah ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan reaksi sesaat. Kita harus berbasis data yang valid agar kebijakannya tepat dan berkelanjutan,” tegas Farhan.
Kelurahan Babakan Ciparay sendiri tercatat sebagai kelurahan terpadat di Kota Bandung, dengan hampir 35 ribu jiwa yang tersebar di sembilan RW. Tingginya kepadatan penduduk berdampak langsung pada volume sampah yang dihasilkan setiap hari. Kondisi paling krusial terjadi di RW 06, yang selama hampir satu dekade mengalami penumpukan sampah akibat keterbatasan akses pengangkutan.
Lurah Babakan Ciparay, Tonny Sukmana, menjelaskan bahwa persoalan utama sebelumnya adalah tidak adanya akses kendaraan pengangkut sampah karena lokasi TPS terhalang sungai. Namun berkat swadaya masyarakat, kini telah dibangun jembatan sederhana yang memungkinkan mobil pengangkut sampah masuk ke wilayah tersebut. “Sekarang akses sudah ada. Harapan kami, pengangkutan bisa segera dilakukan secara rutin agar tidak ada lagi penumpukan yang membahayakan kesehatan warga,” ujar Tonny.
Meski akses sudah terbuka, tantangan belum sepenuhnya teratasi. Tonny mengungkapkan bahwa RW 06 saat ini menjadi titik tampung sampah dari beberapa RW, dengan volume mencapai sekitar 12 rit per hari, sementara kemampuan pengangkutan baru melayani sekitar 6 rit per hari. Ketimpangan ini menyebabkan sampah terus menumpuk hingga ketebalannya mencapai lebih dari satu meter.
“Kami sangat khawatir dampak kesehatan, terutama potensi gas metana, karena lokasi TPS sangat dekat dengan permukiman warga,” ungkap Tonny. Selain pengangkutan rutin, warga juga berharap adanya dukungan armada triseda untuk menjangkau gang-gang sempit yang sulit dilalui kendaraan besar, mengingat kondisi wilayah yang padat dan jarak tempuh petugas yang cukup jauh.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Farhan menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bandung berkomitmen menindaklanjuti persoalan sampah di Babakan Ciparay secara bertahap dan terintegrasi. Penanganan sampah akan disinergikan dengan program penanggulangan banjir, perbaikan drainase, serta penguatan kesiapsiagaan bencana di tingkat RW.
“Sampah ini bukan hanya soal kebersihan, tapi soal kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup warga. Kita ingin penyelesaiannya nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Farhan. Ia juga berharap melalui forum Siskamling Siaga Bencana, dialog langsung antara pemerintah dan warga dapat mempercepat penyelesaian berbagai persoalan lingkungan di kawasan padat penduduk.






