Jakarta, Faktaindonesianews.com – Kehilangan pekerjaan tidak membuat Heddy Pamungkas, warga Karang Kebon Utara, Semarang, larut dalam keterpurukan. Di tengah tekanan ekonomi, ia memilih bangkit dengan membuka usaha kuliner sederhana yang kini dikenal sebagai Angkringan Moses. Keputusan tersebut menjadi langkah awal Heddy membangun kembali sumber penghasilan untuk keluarganya.
Heddy menilai usaha angkringan memiliki prospek jangka panjang karena peminatnya cukup luas. Meski begitu, ia mengakui perjalanan membangun usaha tersebut tidak mudah dan dipenuhi berbagai tantangan, terutama karena lokasi berjualan berada di pinggir jalan raya.
“Saat itu memang lagi ramai dan menurut saya bisa untuk usaha jangka panjang. Usaha ini punya potensi besar, tapi tantangannya juga ada, seperti hujan karena kami jualan di pinggir jalan. Kadang juga ada saja orang yang nakal dan mengganggu,” tutur Heddy, dikutip Senin, 12 Januari 2026.
Selain faktor cuaca dan keamanan, jumlah pelanggan juga tidak selalu stabil. Meski berada di jalur lalu lintas utama, ramainya kendaraan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah pembeli. Namun, lokasi strategis yang dekat dengan hotel justru membuka peluang baru bagi Angkringan Moses untuk menjangkau segmen pelanggan yang lebih beragam.
“Perkembangannya, pelanggan baru selalu ada. Tapi yang namanya jualan memang tidak pasti setiap hari. Untuk penjualan harian masih bisa dibilang lancar, meskipun kadang ada penurunan sedikit,” imbuhnya.
Seiring waktu, Heddy menyadari usahanya membutuhkan tambahan modal untuk berkembang. Atas saran tetangga, ia memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Proses pengajuan yang cepat dan tanpa jaminan tambahan menjadi pengalaman baru yang berkesan bagi Heddy.
“Saya mengenal KUR BRI dari tetangga. Prosesnya cepat, satu hari langsung selesai. Malam pengajuan dan disurvei, besoknya saya ke kantor tanda tangan dan dana langsung cair,” ungkapnya.
Heddy menerima dana KUR BRI sebesar Rp15 juta yang langsung digunakan sepenuhnya untuk pengembangan usaha. Modal tersebut dimanfaatkan untuk membeli kerupuk, menambah meja, serta mengganti peralatan lama yang sudah tidak layak pakai.
Dampak bantuan KUR pun langsung terasa. Fasilitas Angkringan Moses menjadi lebih rapi, gerobak tampak lebih menarik, dan peralatan baru meningkatkan kenyamanan pelanggan. Tampilan yang lebih baik ini juga memberi kesan positif bagi tamu hotel yang kerap melintas di sekitar lokasi usaha.
Bagi Heddy, KUR BRI bukan sekadar tambahan modal, melainkan penopang keberlangsungan usaha kecil seperti miliknya. Ia bahkan aktif merekomendasikan program KUR kepada rekan-rekannya yang masih ragu memulai atau mengembangkan usaha.
“Sangat membantu, terutama untuk pedagang kecil. Tanpa jaminan, prosesnya cepat, dan tidak berbelit-belit. Sekarang saya bisa jelaskan ke teman-teman bahwa KUR itu bagus dan benar-benar membantu,” katanya.
Sementara itu, Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa akses permodalan yang mudah melalui KUR memberikan peluang besar bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya saing ekonomi daerah.
“BRI senantiasa berkomitmen mendukung program prioritas pemerintah di sektor produktif. Kisah Angkringan Moses menjadi contoh nyata bagaimana KUR mampu mendorong perekonomian masyarakat dan menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya,” jelas Dhanny.
Kisah Heddy Pamungkas membuktikan bahwa dengan ketekunan, keberanian memulai usaha, dan dukungan permodalan seperti KUR BRI, pelaku UMKM mampu bangkit dari keterbatasan, memperkuat ekonomi keluarga, serta menciptakan peluang usaha berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi.
