BANDUNG, Faktaindonesianews.com — PT Bio Farma kembali membuktikan perannya sebagai salah satu pelaku utama industri kesehatan nasional. Pada gelaran Bandung Investment Summit 2025, perusahaan farmasi pelat merah itu meraih predikat Pelaku Usaha Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Terbaik Periode 2024.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, kepada AVP Perizinan dan Regulasi Bio Farma, Hilman Djauhar, yang hadir mewakili manajemen pada 25 November 2025.
Sekretaris Perusahaan Bio Farma, Bambang Heriyanto, menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi bukti nyata komitmen Bio Farma dalam memperkuat industri kesehatan nasional. Menurutnya, perusahaan terus mengembangkan investasi strategis, mulai dari riset, pengembangan vaksin, produk biologi, hingga perluasan kapasitas produksi.
“Penghargaan ini memotivasi kami untuk terus menghadirkan investasi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat. Bio Farma berupaya memastikan setiap investasi memberikan nilai tambah bagi ketahanan kesehatan bangsa,” ujar Bambang.
Penilaian PMDN Terbaik pada Bandung Investment Summit 2024 dilakukan melalui serangkaian indikator ketat, seperti kepatuhan penyampaian Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), pemenuhan kewajiban investasi, realisasi tambahan modal sepanjang 2024, serta kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Bio Farma dinilai konsisten dalam memenuhi seluruh aspek tersebut.
Capaian kinerja itu sekaligus menegaskan posisi Bio Farma sebagai BUMN strategis yang tidak hanya menjalankan mandat pengembangan vaksin dan bioteknologi, tetapi juga memberi kontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi, pembangunan daerah, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Acara ini dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, asosiasi industri, lembaga keuangan, hingga investor PMA dan PMDN. Kehadiran seluruh pihak mencerminkan keseriusan Kota Bandung dalam memperkuat daya tarik investasi, khususnya pada sektor-sektor yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyoroti tantangan ekonomi yang masih dihadapi kota ini. Ia menyebut adanya kesenjangan cukup besar antara pendapatan per kapita dan pengeluaran per kapita warga Bandung. Meski pendapatan per kapita telah mencapai Rp147,08 juta, tingkat pengeluaran masyarakat baru berada pada angka Rp18,79 juta.
“Ketimpangan ini menunjukkan bahwa distribusi pendapatan masih belum merata. Kota Bandung membutuhkan dukungan investasi yang lebih kuat dari pelaku usaha—tidak hanya yang kreatif, tetapi juga yang inovatif dan berkelanjutan,” tegas Farhan.
