BRI Dorong UMKM Indonesia Naik Kelas dan Tembus Pasar Global, Ini Strateginya

Faktaindonesianews.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat dukungannya terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu meningkatkan skala usaha hingga menembus pasar internasional.

Dukungan tersebut tidak hanya diberikan melalui pembiayaan. BRI juga mendorong peningkatan kapasitas usaha, literasi keuangan, tata kelola, serta akses bisnis dan pasar global bagi pelaku UMKM.

Bacaan Lainnya

Hal itu disampaikan Direktur Commercial Banking BRI, Alexander Dippo Paris Y. S., dalam Indonesia Economic Forum 2026 bertema “The Future of Indonesia’s Exports: Transforming Towards Value-Added, Competitive and Sustainable Growth”.

Forum tersebut membahas strategi peningkatan daya saing ekspor Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Tiga Tantangan UMKM Masuk Pasar Ekspor

Menurut Dippo, terdapat tiga tantangan utama yang perlu dijawab agar semakin banyak UMKM Indonesia mampu masuk ke pasar ekspor.

Ketiganya meliputi kapasitas usaha dan kualitas produksi, literasi keuangan, serta akses bisnis.

“Berangkat dari tiga hal tersebut, kami memberikan pembiayaan untuk membantu kapasitas, kami memberikan program pendampingan untuk membantu literasi, dan kami membuka sebesar-besarnya akses yang kami miliki untuk membantu akses bisnis dari UMKM,” ujar Dippo dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9/2026).

Pembiayaan menjadi salah satu fondasi bagi UMKM untuk memperbesar kapasitas produksi dan meningkatkan kualitas produk. Dengan dukungan modal, pelaku usaha dapat mengembangkan skala bisnis sekaligus menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar yang lebih luas.

Kredit UMKM BRI Capai Rp1.235,4 Triliun

Komitmen tersebut tercermin dalam portofolio pembiayaan BRI. Hingga akhir triwulan II 2026, kredit yang disalurkan kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun.

Angka tersebut tumbuh 8,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Porsi kredit UMKM juga mencapai sekitar 75,1 persen dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.

Namun, menurut Dippo, modal saja belum cukup untuk membawa UMKM masuk ke pasar global.

Pelaku usaha juga harus memiliki kemampuan mengelola keuangan dan tata kelola bisnis dengan baik. Hal tersebut semakin penting karena calon pembeli dari luar negeri memiliki tuntutan yang lebih kompleks.

Literasi Keuangan Jadi Bekal UMKM Ekspor

Dippo menjelaskan bahwa transaksi ekspor bukan sekadar persoalan menjual produk ke luar negeri. Calon buyer juga membutuhkan informasi mengenai transparansi keuangan, proses produksi dan sumber bahan maupun pembiayaan usaha.

“Ekspor itu bukan hanya menjual barang. Buyer di luar negeri juga menuntut adanya transparansi keuangan. Kemampuan dari produsen menjelaskan bagaimana cara memproduksi, bagaimana keuangannya, sumbernya dari mana, itu juga penting untuk dilihat dari sisi buyer,” jelas Dippo.

Karena itu, BRI membangun ekosistem pemberdayaan UMKM yang berjalan berdampingan dengan pembiayaan.

Hingga Juni 2026, Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan, sedangkan Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha.

Di sisi digital, LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Sementara pendampingan melalui Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM.

“Yang paling berat adalah bagaimana secara pelan-pelan kita meningkatkan skala mereka, literasi mereka sampai mereka bisa diakses secara internasional. Ini tidak boleh dibalik. Kalau hari ini kita kasih akses tapi literasinya belum dapat, maka akses itu akan sia-sia juga,” ungkap Dippo.

One BRI Solution Buka Akses ke Rantai Nilai

Setelah kapasitas dan kesiapan bisnis diperkuat, tantangan berikutnya adalah mempertemukan UMKM dengan pasar.

BRI memanfaatkan ekosistem nasabah dari berbagai segmen melalui pendekatan One BRI Solution. Melalui pendekatan tersebut, pelaku UMKM dapat terhubung dengan nasabah korporasi maupun komersial yang berpotensi membuka peluang masuk ke rantai nilai bisnis yang lebih besar.

Akses pasar internasional juga didorong melalui BRI UMKM EXPO(RT).

Pada penyelenggaraan 2025, ajang tersebut melibatkan lebih dari 1.000 UMKM dan menghasilkan commitment deal melalui business matching senilai USD90,6 juta atau sekitar Rp1,5 triliun.

Kegiatan tersebut juga mempertemukan UMKM dengan 506 pembeli terdaftar dari 34 negara.

Kolaborasi BRI Bantu UMKM Masuk Pasar Global

Dippo mencontohkan pengembangan UMKM sektor perikanan dan industri kayu di Jawa Timur sebagai gambaran pemanfaatan ekosistem bisnis untuk membuka akses pasar internasional.

Menurutnya, BRI tidak bekerja sendirian dalam menghubungkan UMKM dengan buyer luar negeri. Bank memanfaatkan jaringan nasabah korporasi dan komersial yang telah memiliki hubungan bisnis dengan pembeli di berbagai negara.

“Ketika mereka berhasil menjual produknya, mereka tidak sendiri. BRI tidak memberikan akses itu sendiri. Kita menggunakan nasabah-nasabah korporasi dan komersial kita yang kebetulan juga memiliki buyer di negara-negara tersebut. Jadi kolaborasi ini contohnya,” kata Dippo.

Pos terkait