Faktaindonesianews.com – Dominasi Tesla sebagai raja mobil listrik dunia akhirnya runtuh. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, produsen kendaraan listrik asal China, BYD, resmi merebut posisi teratas sebagai penjual mobil listrik terbesar di dunia. Pergeseran ini menandai babak baru dalam persaingan industri otomotif global yang kian sengit.
Berdasarkan laporan terbaru, Tesla mencatat penjualan 1,64 juta unit kendaraan sepanjang 2025. Angka tersebut justru menunjukkan penurunan sekitar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, BYD melesat dengan total penjualan mencapai 2,26 juta unit, jauh melampaui capaian Tesla. Selisih ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat bahwa pusat kekuatan mobil listrik kini mulai bergeser ke Asia, khususnya China.
Selama bertahun-tahun, Tesla dikenal sebagai pelopor sekaligus simbol inovasi kendaraan listrik global. Namun, derasnya arus kompetitor baru, terutama dari China, membuat posisi Tesla semakin tertekan. BYD memanfaatkan keunggulan produksi massal, harga kompetitif, dan dukungan pasar domestik yang kuat untuk menancapkan dominasinya.
Tekanan terhadap Tesla tidak berhenti pada faktor persaingan. Kontroversi politik yang melibatkan CEO Tesla, Elon Musk, turut memberi dampak signifikan. Dukungan Musk terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta keterlibatannya dalam Departemen Efisiensi Pemerintah AS (DOGE) pada 2024 memicu gelombang protes. Efeknya terasa langsung pada citra merek dan keputusan konsumen, yang berujung pada penurunan penjualan.
Di sisi lain, penjualan Tesla pada kuartal keempat 2025 hanya mencapai 418.227 unit, masih berada di bawah target internal perusahaan yang menembus 440 ribu unit. Upaya Musk mundur dari DOGE pada Mei lalu bertujuan meredam kekhawatiran investor. Namun, langkah tersebut belum mampu mengembalikan performa penjualan seperti yang diharapkan.
Situasi semakin menantang setelah pemerintah AS mengakhiri insentif kredit pajak kendaraan listrik sebesar US$7.500 pada September lalu. Kebijakan tersebut berdampak langsung pada daya beli konsumen dan mempersempit ruang gerak Tesla di pasar domestik. Hubungan Musk dan Trump pun kian memanas, seiring sikap Trump yang secara terbuka menentang pengembangan kendaraan listrik.
Meski demikian, kepercayaan investor terhadap Tesla belum sepenuhnya luntur. Banyak pihak masih melihat potensi besar dari ambisi Elon Musk dalam mengembangkan taksi robot otonom serta robot humanoid untuk kebutuhan rumah tangga. Proyek-proyek futuristik ini dianggap mampu menjadi mesin pertumbuhan baru bagi Tesla di masa depan.






