Faktaindonesianews.com – Venezuela memasuki babak politik paling genting dalam sejarah modernnya setelah Wakil Presiden Delcy Rodriguez ditetapkan sebagai pemimpin interim menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. Keputusan ini menempatkan Rodriguez di garis depan konflik terbuka dengan Presiden AS Donald Trump, yang secara terang-terangan mengincar kendali atas Venezuela dan cadangan minyak raksasanya.
Rodriguez bukan figur sembarangan. Perempuan berusia 56 tahun ini dikenal luas dengan retorika anti-imperialis yang keras dan sikap konfrontatif terhadap Amerika Serikat. Maduro bahkan menjulukinya “si harimau betina”, simbol loyalitas, ketegasan, dan keberanian menghadapi tekanan asing. Julukan itu kini terasa relevan, karena Rodriguez muncul sebagai hambatan utama ambisi Trump pasca tumbangnya Maduro.
Trump tak menyembunyikan ancamannya. Dalam wawancara dengan majalah The Atlantic, ia memperingatkan Rodriguez agar bertindak sesuai “keinginan Amerika Serikat”. Jika tidak, konsekuensinya disebut akan jauh lebih berat dibandingkan nasib yang kini dialami Maduro. Ancaman ini menegaskan bahwa tekanan Washington terhadap Caracas belum berakhir—justru memasuki fase baru.
Sebagai pembela garis keras Maduro, Rodriguez bergerak cepat menampilkan diri sebagai figur stabil di tengah kekacauan politik. Beberapa jam setelah penangkapan Maduro, ia menegaskan bahwa Maduro tetap merupakan “satu-satunya presiden sah Venezuela”, menuntut pembebasannya, serta menyatakan kesiapan pemerintah untuk membela kedaulatan negara dari intervensi asing.
Mahkamah Agung Venezuela kemudian memerintahkan Rodriguez mengambil alih kewenangan presiden dalam kapasitas sementara. Keputusan ini menjadikannya perempuan pertama yang memegang jabatan tertinggi di Venezuela, meski bersifat interim. Militer Venezuela pun menyatakan pengakuan terhadap kepemimpinannya, sebuah sinyal penting di tengah situasi politik yang rapuh.
Latar belakang Rodriguez memperkuat posisinya. Ia adalah seorang pengacara yang telah lama berkiprah di lingkaran kekuasaan, baik di era Hugo Chavez maupun Maduro. Sejak 2018, ia menjabat wakil presiden, dan pada 2024 juga dipercaya sebagai Menteri Hidrokarbon, posisi strategis di negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.
Analis politik Pedro Benitez dari Universitas Pusat Venezuela menyebut Rodriguez sebagai salah satu orang paling dipercaya Maduro. Kepercayaan itu kini diuji, terutama karena Amerika Serikat secara terbuka menjadikan akses terhadap minyak Venezuela sebagai target utama tekanan politik dan militernya.
Namun, tantangan Rodriguez tidak kecil. Ia masih berada di bawah sanksi Amerika Serikat dan Eropa atas dugaan merusak demokrasi dan pelanggaran hak asasi manusia. Meski begitu, ilmuwan politik Benigno Alarcon menilai bahwa secara praktik, Rodriguez sudah memegang kendali negara, terlepas dari proses pelantikan formal.






