Bandung, Faktaindonesianews.com – Suatu pagi di aula manasik, terdengar lantunan doa dari calon jemaah haji desa. Mereka khusyuk menyebut nama Allah, namun di balik zikir itu terselip bisik cemas tentang cicilan keberangkatan. “Kalau sampai saya tak bisa lunasi, apakah doa saya juga ditolak, Pak?” tanya seorang ibu dengan air mata.
Pertanyaan itu menampar nurani sebab haji yang seharusnya menjadi panggilan suci, kini sering diantar bukan oleh ridha, melainkan rentenir bersorban.
Di sejumlah daerah, hasil penelusuran lapangan menunjukkan fenomena yang kian mengkhawatirkan: munculnya pihak-pihak yang mengklaim diri sebagai “pembimbing,” namun berperan ganda sebagai penyedia modal haji.
Pinjaman atas nama tolong-menolong, tapi dengan bunga tak jauh beda dari lintah darat di pasar. Mereka datang dengan jubah, senyum, dan dalil ayat; padahal tangannya menghitung cuan dari keringat jamaah yang mendamba baitullah.
Fenomena ini diperparah oleh absennya kontrol dari negara. Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) di banyak daerah hanya berperan administratif mencatat, mengesahkan, tanpa benar-benar menelusuri struktur keuangan di balik KBIH atau yayasan yang mengelola jemaah.
Akibatnya, praktik penggandaan biaya, pungutan liar, dan komisi transportasi kerap dianggap “urusan internal.”
Padahal uang yang dikutip berasal dari rakyat yang berjuang, menjual sawah, bahkan meminjam dari koperasi demi selembar paspor ke Tanah Suci.
Ironinya, mereka yang berteriak paling keras tentang “ikhlas” justru menumpuk fasilitas dari hasil keringat jamaah: rumah mentereng, mobil dinas, bahkan yayasan pendidikan berlabel syariah yang hidup dari potongan “biaya pembinaan.” Ibadah berubah jadi ekonomi moral yang amoral — berlapis simbol, tapi miskin nurani.
Apakah salah jemaah? Tidak.
Mereka hanya tak punya daya melawan sistem yang ruwet, penuh tafsir abu-abu antara niat suci dan keuntungan duniawi.Yang seharusnya berdiri di barisan pembela justru tenggelam dalam kolam kepentingan.
Dan negara? Sibuk mengurus kuota, bukan kejujuran.
Kini kita dipaksa bertanya
Siapa yang sesungguhnya berhaji para tamu Allah, atau para calo berkedok pembimbing? Dan sampai kapan kita membiarkan ibadah paling sakral dikomersialisasi oleh tangan-tangan yang mengaku mulia?
Haji seharusnya menjadi perjalanan penyucian diri, bukan proyek kemakmuran elit spiritual lokal.
Karena di hadapan Ka’bah, tidak ada jubah, tidak ada titel, tidak ada rekening. Yang ada hanyalah hati dan mungkin itulah yang kini paling miskin di negeri yang katanya religius ini.
(djohar)






