Pemkot Bandung Buka 3.000 Lowongan Kerja, 40 Warga Diberangkatkan ke Jepang

Bandung, Faktaindonesianews.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperluas akses kerja bagi masyarakat melalui job fair dan program penempatan tenaga kerja ke luar negeri. Tahun ini, Pemkot Bandung menyediakan sekitar 3.000 lowongan pekerjaan sekaligus memfasilitasi 40 warga untuk bekerja di Jepang.

Pemkot Bandung bahkan memberikan subsidi pelatihan bahasa Jepang hingga Rp10 juta per orang bagi calon pekerja migran. Program tersebut bertujuan mengurangi beban biaya awal sekaligus membuka peluang warga Kota Bandung mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan dan pengalaman kerja yang lebih baik.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana mengatakan, job fair tersebut menjadi kegiatan keempat yang Disnaker gelar sepanjang 2026.

“Setiap job fair rata-rata dihadiri sekitar 2.000 pencari kerja. Untuk kegiatan kali ini tersedia sekitar 3.000 lowongan sementara yang mendaftar melalui sistem tiket sebanyak 1.500 orang,” kata Yayan di Job Fair Wilayah Bandung Selatan, Miko Mall, Kamis, 30 Juli 2026.

Job Fair Bandung Serap Ratusan Tenaga Kerja

Yayan menyebut penyelenggaraan job fair sebelumnya menunjukkan hasil positif. Dari sekitar 1.500 peserta yang mengikuti job fair di Gedung KONI, sebanyak 600 orang berhasil mendapatkan pekerjaan.

Capaian tersebut mendorong Disnaker Kota Bandung untuk terus memperluas kerja sama dengan dunia usaha. Job fair menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dengan masyarakat yang sedang mencari pekerjaan.

Selain menyediakan lowongan kerja dalam negeri, Disnaker juga memperluas kesempatan kerja internasional melalui program penempatan tenaga kerja ke Jepang.

Sebanyak 40 warga Kota Bandung mengikuti program tersebut melalui kerja sama dengan sejumlah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Para peserta akan menjalani kontrak kerja selama tiga tahun pada berbagai sektor, mulai dari caregiver, pengolahan makanan, restoran hingga konstruksi.

Yayan menilai peluang kerja di Jepang cukup besar. Bahkan, sejumlah agensi dari Jepang masih membutuhkan ribuan tenaga kerja.

“Kesempatan bekerja di Jepang sangat besar. Bahkan agensi dari Jepang menyampaikan masih ada ribuan kebutuhan tenaga kerja dan mereka sangat tertarik dengan pekerja asal Kota Bandung karena dikenal ulet, terampil dan kreatif,” ujarnya.

Pemkot Bandung Subsidi Pelatihan Bahasa Jepang

Pemkot Bandung memberikan subsidi pelatihan bahasa Jepang hingga level N5 dengan nilai sekitar Rp10 juta per peserta. Pemerintah memberikan dukungan tersebut untuk membantu calon pekerja mempersiapkan kemampuan bahasa sebelum berangkat.

Sementara itu, kebutuhan lain seperti tiket pesawat, visa, dan biaya keberangkatan mendapat dukungan melalui kerja sama dengan perbankan serta pihak Jepang.

Skema tersebut memungkinkan peserta mencicil sebagian biaya setelah mulai bekerja di Jepang. Dengan begitu, calon pekerja tidak harus menyiapkan biaya besar sejak awal.

“Kami mensubsidi pelatihan bahasanya. Untuk biaya lainnya ada yang bantu perbankan maupun pihak Jepang sehingga peserta bisa berangkat tanpa harus menyiapkan biaya besar di awal,” ungkap Yayan.

Menurutnya, program tersebut juga menjadi salah satu strategi Pemkot Bandung untuk menekan angka pengangguran sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pasar kerja internasional.

Pekerja Diminta Jaga Nama Baik Bandung

Yayan juga mengingatkan calon pekerja migran agar menjaga sikap dan nama baik Kota Bandung selama bekerja di Jepang. Ia menilai perilaku pekerja di luar negeri turut membawa citra daerah asal.

“Mereka sangat sensitif terhadap perilaku negatif. Kalau ada pelanggaran, bukan hanya individu yang terkena dampaknya tetapi citra Kota Bandung juga bisa tercoreng bahkan berpotensi masuk daftar hitam,” jelasnya.

Ia juga mendorong lebih banyak warga Kota Bandung memanfaatkan peluang kerja di luar negeri. Menurut Yayan, pengalaman tersebut dapat menjadi modal penting ketika pekerja kembali ke Indonesia.

“Jangan ragu mencari peluang di luar negeri. Pulang ke Indonesia nanti sudah punya pengalaman, budaya kerja yang baik, kemampuan bahasa, sekaligus modal usaha,” ujarnya.

Disnaker Kota Bandung mencatat minat warga terhadap program kerja luar negeri masih perlu ditingkatkan. Selama ini, sebagian peserta justru berasal dari luar Kota Bandung, seperti Indramayu dan Majalengka.

Karena itu, Disnaker akan memperluas sosialisasi mengenai peluang kerja internasional agar semakin banyak warga Kota Bandung memahami manfaat dan mekanisme bekerja di luar negeri.

Peserta Jalani Pelatihan hingga Enam Bulan

Founder LPK Ohm, Rizal Ansory, mengatakan program penempatan tenaga kerja ke Jepang melibatkan tiga lembaga pelatihan, yakni LPK Bahana, LPK Hikari Senseiku, dan LPK Ohm. Ketiga lembaga tersebut menyiapkan 40 peserta yang akan berangkat secara bertahap.

Rizal menjelaskan, meskipun subsidi pelatihan dari Disnaker berlangsung sekitar tiga bulan, peserta rata-rata menjalani pembinaan hingga enam bulan sebelum keberangkatan.

“Peserta tidak hanya belajar bahasa Jepang, tetapi juga budaya kerja, disiplin, mental dan fisik agar siap menghadapi lingkungan kerja di Jepang,” ujar Rizal.

Pelatihan juga menyesuaikan bidang pekerjaan peserta. Calon pekerja di sektor konstruksi, misalnya, mendapatkan latihan fisik lebih intensif untuk menghadapi tuntutan pekerjaan dan kondisi cuaca di Jepang.

Rizal menyebut keberangkatan peserta berlangsung secara bertahap mulai Juli hingga akhir 2026, menyesuaikan jadwal perusahaan penerima tenaga kerja di Jepang.

“Macam-macam. Kalau dari LPK Ohm ada yang berangkat bulan ini sampai nanti akhir tahun,” tuturnya.

Pos terkait