Bandung, Faktaindonesianews.com – Pengelolaan sampah menjadi perhatian utama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat mengunjungi Kelurahan Tamansari dalam kegiatan Siskamling Siaga Bencana, Selasa (13/1/2026). Kunjungan tersebut dimanfaatkan Farhan untuk melihat langsung kondisi pengelolaan sampah di tingkat kelurahan sekaligus menyerap aspirasi warga terkait solusi yang telah berjalan.
Salah satu sorotan utama Farhan adalah keberadaan mesin insinerator yang berada di kawasan rumah deret Tamansari. Menurutnya, mesin tersebut belum berfungsi secara optimal dan belum mampu menjawab kebutuhan pengolahan sampah di kawasan yang padat penduduk.
Farhan menilai kapasitas insinerator relatif kecil, sehingga daya olahnya terbatas. Kondisi ini membuat pengelolaan sampah belum berjalan maksimal, terutama jika volume sampah harian terus meningkat. Ia pun membuka kemungkinan evaluasi menyeluruh terhadap sistem dan manajemen pengoperasian mesin tersebut.
“Kapasitasnya kecil dan kelihatannya belum optimal. Kita akan lihat manajemennya. Kalau memang diperlukan, bisa saja nanti mesin insineratornya diganti,” ujar Farhan saat berdialog dengan warga dan pengurus RW.
Meski menyoroti keterbatasan insinerator, Farhan memberikan apresiasi tinggi kepada warga RW 15 Kelurahan Tamansari yang telah berinisiatif menjalankan sistem sentralisasi pengelolaan sampah organik. Seluruh sampah organik dari RW-RW di kelurahan tersebut dikumpulkan dan dikelola secara terpusat, sebuah langkah yang dinilai progresif dan patut dicontoh.
Menurut Farhan, sistem berbasis komunitas seperti ini menunjukkan bahwa peran aktif masyarakat menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan sampah perkotaan. Ia memperkirakan terdapat sekitar 20 RW di Kelurahan Tamansari, dengan masing-masing RW mampu menyumbang sekitar 25 kilogram sampah organik per hari. Dengan demikian, total sampah organik yang dapat dikelola mencapai sekitar setengah ton per hari.
“Ini sangat mendukung rencana kita untuk program pengolahan gas dari sampah. Sistemnya sudah ada, tinggal kita sempurnakan dan tingkatkan kualitas pengelolaannya,” jelas Farhan.
Pemerintah Kota Bandung menilai pendekatan seperti yang diterapkan di Tamansari dapat menjadi model pengelolaan sampah perkotaan yang berkelanjutan, terutama di wilayah padat penduduk. Dengan dukungan sarana yang memadai, manajemen yang baik, serta konsistensi warga, pengolahan sampah tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan energi dari limbah.
