BANDUNG, Faktaindonesianews.com — Pemerintah Kota Bandung menegaskan komitmennya menjaga kerukunan, toleransi, dan harmoni antarumat beragama melalui kegiatan silaturahmi tokoh agama dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tingkat Kota Bandung, Selasa (10/2/2026). Kegiatan yang digelar di Pendopo Kota Bandung tersebut berlangsung dalam suasana hangat, penuh kebersamaan, dan mencerminkan keberagaman yang menjadi identitas kota.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut silaturahmi lintas iman ini sebagai wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam membangun Bandung sebagai kota inklusif dan toleran. Ia menegaskan, kerukunan bukan sekadar simbol, melainkan fondasi kehidupan sosial masyarakat.
“Kota Bandung adalah rumah bagi semua. Kerukunan bukan hanya slogan, tetapi fondasi kehidupan sosial kita,” ujar Farhan.
Farhan mengingatkan bahwa sejak akhir 2024, Pendopo Kota Bandung secara rutin digunakan sebagai ruang doa bersama lintas agama. Menurutnya, ruang tersebut menjadi simbol persatuan sekaligus pengakuan bahwa seluruh warga memiliki kedudukan yang setara.
Ia juga menyampaikan rencana dukungan operasional bagi rumah ibadah lintas agama sebagai bentuk penguatan kehidupan beragama yang adil dan harmonis di Kota Bandung.
Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN), Fam Kiun Fat, mengajak seluruh hadirin memahami makna Imlek dari perspektif sejarah dan spiritual umat Konghucu. Ia menjelaskan bahwa penanggalan Kongzili berakar dari ajaran Nabi Kongzi yang lahir pada 551 sebelum Masehi, dengan sistem kalender yang mengikuti peredaran bulan dan musim.
“Bagi umat Konghucu, Imlek bukan sekadar tradisi budaya, tetapi momentum keagamaan untuk refleksi dan pembaruan diri,” ujar Fam Kiun Fat.
Ia juga menyinggung perjalanan panjang pengakuan hak-hak umat Konghucu di Indonesia dan mengapresiasi Kota Bandung yang dinilai konsisten merawat toleransi.
“Keberagaman adalah kekuatan. Imlek mengajarkan kita untuk memulai tahun baru dengan semangat kebajikan dan persaudaraan,” katanya.
Fam Kiun Fat turut mengundang masyarakat untuk menikmati perayaan malam Imlek di kawasan Cibadak dan klenteng sebagai bagian dari wisata religi dan budaya yang terbuka bagi seluruh kalangan.
Dalam kesempatan tersebut, Farhan mengaitkan nilai toleransi dengan tantangan nyata kota, khususnya persoalan pengelolaan sampah. Ia menekankan bahwa masalah lingkungan hanya bisa diselesaikan melalui partisipasi seluruh warga tanpa memandang latar belakang.
“Sampah adalah masalah bersama. Penyelesaiannya pun harus bersama-sama. Toleransi bukan hanya soal keyakinan, tapi kerja nyata untuk masa depan kota,” tegas Farhan.
Saat ini, Pemkot Bandung menjalankan program pemilahan sampah berbasis wilayah hingga kawasan zero waste sebagai bagian dari transformasi lingkungan perkotaan.
Perayaan Imlek 2577 Kongzili tahun ini mengusung semangat nasional Harmoni Imlek Nusantara, yang mendorong ekspresi budaya, kreativitas, dan kolaborasi seni. Bandung sebagai kota kreatif didorong menjadikan Imlek sebagai ruang pertemuan budaya yang memperkuat persaudaraan.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan simbolis dari komunitas Konghucu kepada Pemerintah Kota Bandung dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dilanjutkan foto bersama sebagai simbol persatuan lintas iman.






