Transformasi Pertanian Organik di Pamarican Ciamis: Solusi Sehat untuk Petani dan Masyarakat

Transformasi Pertanian Organik di Pamarican Ciamis: Solusi Sehat untuk Petani dan Masyarakat

Faktaindonesianews.com, Ciamis – Pemerintah Kabupaten Ciamis terus mendorong perubahan besar di sektor pertanian dengan mengembangkan sistem pertanian organik. Langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga menjaga kualitas kesehatan masyarakat dari dampak konsumsi bahan pangan yang terkontaminasi zat kimia.

Upaya ini mulai terlihat nyata di Kecamatan Pamarican. Camat Pamarican, Asep Kodari, menyampaikan bahwa Kelompok Tani Parikesit di Desa Bangunsari kini menjadi pelopor pengelolaan lahan padi organik seluas 24 hektar.

Bacaan Lainnya

“Total luas sawah di Kecamatan Pamarican mencapai sekitar 2.800 hektar lebih. Khusus di Desa Bangunsari ada 493 hektar, dan 24 hektar di antaranya kini sudah ditanami padi organik,” ujar Asep saat kegiatan tanam padi organik tingkat Kabupaten Ciamis, Kamis (9/4/2026).

Tidak hanya itu, pengembangan juga dilakukan melalui demplot padi beras merah seluas 1 hektar di kawasan Karangcengek. Ke depan, pihak kecamatan menargetkan setiap desa minimal memiliki satu hektar lahan organik sebagai bagian dari transformasi pertanian berkelanjutan.

Sementara itu, Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, mengungkapkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan terkait kualitas tanah di wilayahnya. Berdasarkan hasil riset, sebagian besar lahan pertanian telah terpapar bahan kimia dalam kadar tinggi.

“Kondisi tanah kita sedang tidak baik-baik saja. Terlalu banyak bahan kimia yang bercampur, sehingga hasil pertanian pun ikut terkontaminasi. Ini tentu kurang baik bagi kesehatan manusia,” tegasnya.

Menurut Herdiat, peralihan menuju penggunaan pupuk organik menjadi langkah penting dan tidak bisa ditunda. Meski perubahan pola pikir petani membutuhkan waktu, pemerintah akan terus mendorong proses tersebut secara bertahap.

Ia menambahkan, selain lebih ramah lingkungan, penggunaan pupuk organik juga dinilai lebih ekonomis dibanding pupuk kimia, bahkan yang bersubsidi sekalipun. Dari sisi hasil panen, padi organik juga tidak kalah bersaing. Di beberapa wilayah seperti Panumbangan, produktivitasnya mampu mencapai 8 hingga 9 ton per hektar.

Menariknya, permintaan beras organik dari luar negeri terhadap hasil produksi dari Ciamis juga mengalami peningkatan signifikan. Hal ini membuka peluang ekspor sekaligus meningkatkan nilai ekonomi petani lokal.

Di tengah upaya tersebut, Bupati juga mengingatkan ancaman kemarau panjang yang diprediksi mencapai puncaknya pada Mei hingga Juni mendatang. Ia meminta masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi seperti membangun embung atau penampungan air.

Tak hanya fokus pada produksi, Herdiat juga mengajak masyarakat untuk mulai melakukan diversifikasi pangan. Ia mendorong konsumsi sumber karbohidrat alternatif seperti ubi, ketela, dan talas sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan daerah.

Pos terkait