Faktaindonesianews.com – Aktivitas cuaca ekstrem kembali menjadi perhatian setelah Bibit Siklon Tropis 97S terpantau aktif di sekitar perairan Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sistem atmosfer ini berada di sekitar Laut Timor bagian utara Australia, namun dampaknya sudah mulai dirasakan di sejumlah wilayah Tanah Air.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa bibit siklon tersebut terdeteksi di Samudra Hindia selatan Indonesia dengan kecepatan angin maksimum mencapai 15 knot atau sekitar 28 km/jam serta tekanan udara minimum 1001 hPa. Meski masih dalam kategori bibit, sistem ini tetap berpotensi memicu cuaca signifikan.
“Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memperkuat pertemuan dan belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” ujar Andri dalam keterangan tertulisnya, Selasa (20/1).
BMKG menilai peluang Bibit Siklon Tropis 97S berkembang menjadi siklon tropis tergolong rendah dalam 24 jam ke depan. Namun, dampak tidak langsung tetap perlu diwaspadai, terutama berupa curah hujan tinggi, angin kencang, dan gelombang laut tinggi di sejumlah perairan.
Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, disertai kemungkinan angin kencang. Sementara itu, Nusa Tenggara Barat (NTB) diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi ini berisiko memicu banjir, tanah longsor, dan gangguan aktivitas masyarakat.
BMKG juga merinci wilayah laut yang berpotensi mengalami gelombang tinggi. Gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di Laut Banda, Laut Flores, Perairan Kepulauan Kei hingga Aru, Kepulauan Babar dan Tanimbar, serta Laut Arafuru bagian utara, tengah, dan timur. Adapun gelombang lebih tinggi, yakni 2,5 hingga 4 meter, diprakirakan terjadi di Perairan Kupang, Laut Sawu, Samudra Hindia selatan NTT, serta Laut Arafuru bagian barat.
Di sisi lain, BMKG juga memantau keberadaan Siklon Tropis Nokaen di sekitar Laut Filipina, sebelah timur laut Manila. Siklon kategori 1 ini terbentuk dari bibit siklon 91W dan diperkirakan bergerak menjauhi Indonesia. Meski demikian, dampaknya masih terasa berupa gelombang laut setinggi 1,25–2,5 meter di Samudra Pasifik utara Maluku.






