Bandung, Faktaindonesianews.com – Namanya tak asing, tapi kisahnya kian jarang diingat, Baharuddin Lopa, jaksa sederhana asal Polewali, Sulawesi Selatan pria keras tapi bersih yang hidupnya menjadi antitesis dari sistem hukum yang kini kian mahal dan kian bengkok.
Lopa bukan sekadar jaksa, ia adalah penegak moral di tengah lautan kompromi. Ketika banyak pejabat menjadikan jabatan sebagai jalan cepat menuju kekayaan, Lopa memilih jalan sempit: kejujuran. Ia tidak punya rumah mentereng, tidak ada mobil dinas berkilau, bahkan sering tidur di kantor. Tapi di matanya, hukum bukan alat untuk menakut-nakuti rakyat, melainkan senjata untuk menegur penguasa.
Dan ketika ia mulai membongkar kasus-kasus besar, memburu uang negara yang hilang ke kantong para elite, takdir pun datang lebih cepat dari perkiraan.
3 Juli 2001, di Jeddah, Lopa berpulang dalam tugas kenegaraan. Kabar itu membuat publik gemetar. Orang percaya, orang curiga, tapi satu hal pasti: bangsa ini kehilangan cermin kejujuran.
Jaksa yang Tak Pernah Tergoda
Ada kisah yang tak terlupakan. Suatu hari, seorang pejabat tinggi yang disidiknya datang membawa bingkisan. Lopa menatapnya tajam dan berkata :
“Kalau Anda ingin saya berhenti, berhentilah melakukan kejahatan. Bukan saya yang berhenti bekerja.”
Kalimat itu kini terdengar seperti dongeng di zaman di mana “integritas” sering dijual lewat baliho dan konferensi pers.
Baharuddin Lopa tidak main kamera, tidak main panggung. Ia bekerja dalam diam, tapi suaranya menggema sampai hari ini.
Kini, Siapa yang Menyambung Napas Lopa?
Dua puluh tahun lebih sudah Lopa pergi, tapi kasus korupsi justru makin menjamur.
Setiap tahun, deretan pejabat ditangkap — tapi seperti jamur di musim hujan, yang tumbuh lebih cepat adalah kerakusan.
Kita lihat sendiri: ada jaksa diseret KPK, hakim tertangkap tangan, pejabat main proyek, dan polisi ikut bermain kasus. Bangsa ini seakan kebal pada rasa malu. Sementara itu, Lopa tetap dikenang bukan karena jabatan yang ditinggalkan, tapi karena nilai hidup yang ia pertahankan.
Hukum Tanpa Moral, Seperti Pedang Tanpa Pegangan
Baharuddin Lopa pernah berkata : “Saya tidak takut mati, saya hanya takut tidak jujur.”
Dan benar kejujurannya menewaskan rasa takut banyak orang.
Hari ini, bangsa ini butuh lebih banyak Lopa, bukan dalam nama, tapi dalam keberanian.
Keberanian menolak amplop, menolak tekanan, dan menolak kompromi yang merusak hukum dari dalam.
Alhasil, Lopa mungkin telah tiada.
Namun di setiap berita korupsi yang muncul, seakan ada bisikan lirih dari kuburannya di Makassar : “Aku sudah mati, tapi kejujuran jangan ikut mati.”
Pertanyaannya : masih adakah jaksa, hakim, atau pejabat yang mau hidup sederhana tapi mati terhormat?/djohar






