DPR Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Minyak, Dorong Pemerintah Percepat Kemandirian Energi Nasional

DPR Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Minyak, Dorong Pemerintah Percepat Kemandirian Energi Nasional

Faktaindonesianews.com, Jakarta – Komisi XIII DPR RI mendorong pemerintah untuk segera mempercepat program kemandirian energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Desakan ini muncul menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang dinilai berpotensi memicu gejolak harga energi dunia.

Anggota Komisi XIII DPR RI, Bias Layar, mengatakan bahwa situasi tersebut harus menjadi alarm serius bagi pemerintah Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah maupun bahan bakar minyak (BBM), khususnya dari kawasan Timur Tengah, bisa menimbulkan risiko besar bagi stabilitas ekonomi nasional.

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik di wilayah tersebut sangat berpengaruh terhadap jalur distribusi energi global, terutama di kawasan Selat Hormuz yang dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.

“Ketegangan di sekitar jalur energi global seperti Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi secara drastis,” ujar Bias kepada wartawan, Sabtu (7/3).

Menurutnya, apabila konflik global terus meluas, harga minyak dunia sangat mungkin mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, ia memperkirakan harga minyak mentah dapat menembus lebih dari 100 dolar AS per barel jika situasi geopolitik semakin memburuk.

Kondisi tersebut tentu akan memberikan dampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Bias menyebutkan bahwa lonjakan harga energi bisa memicu kenaikan inflasi, meningkatnya harga kebutuhan pokok, hingga memberikan tekanan berat terhadap struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Oleh karena itu, ia meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis guna mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dari kawasan yang sedang berkonflik.

Salah satu langkah yang diusulkan adalah memperluas kerja sama energi dengan negara-negara lain di berbagai kawasan seperti Amerika, Afrika, maupun Asia Pasifik. Diversifikasi sumber energi dinilai penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu kawasan tertentu.

Selain itu, Bias juga menilai Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) perlu mendorong Pertamina untuk mempercepat target produksi minyak nasional hingga mencapai 1 juta barel per hari.

Menurutnya, peningkatan produksi minyak domestik harus menjadi prioritas untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Langkah ini harus diiringi dengan pembangunan infrastruktur energi, peningkatan kapasitas penyimpanan cadangan BBM nasional, serta dukungan kebijakan fiskal yang memadai,” jelasnya.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah saat ini memang menjadi perhatian dunia karena berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi global. Konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel disebut telah memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini dapat berdampak langsung pada harga energi global.

Sejumlah negara produsen energi bahkan memperkirakan bahwa jika konflik terus berlanjut atau meluas, harga minyak dunia dapat melonjak lebih tinggi dalam waktu dekat.

Pos terkait