Hamas Tunda Pembebasan Sandera, Tuduh Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata

Hamas Tunda Pembebasan Sandera
Hamas Tunda Pembebasan Sandera

Gaza, Faktaindonesianews.com – Hamas membatalkan rencana pembebasan sandera yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (15/2). Kelompok militan ini menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.

Juru bicara Brigade Qassam, Abu Obeida, menegaskan bahwa Hamas tidak akan melepaskan tahanan sebelum Israel memenuhi janji-janjinya.

Bacaan Lainnya

“Kami tetap mematuhi perjanjian ini selama Israel juga melakukan hal yang sama,” ujar Obeida dalam pernyataan yang dikutip AFP melalui platform X.

Israel Siapkan Militer, Tuding Hamas Langgar Perjanjian

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz langsung menginstruksikan militer untuk meningkatkan kesiagaan. Ia memperingatkan bahwa Israel akan merespons jika Hamas terus melanggar kesepakatan.

Katz menuduh Hamas mengingkari perjanjian yang telah mereka sepakati. Ia menilai keputusan kelompok itu sebagai pelanggaran berat terhadap gencatan senjata.

Hamas telah membebaskan tiga sandera dalam pertukaran keempat sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 19 Januari. Saat ini, Hamas masih menahan 79 sandera di Gaza, tetapi mereka hanya berencana melepaskan 20 orang dalam tahap ini. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa delapan sandera telah meninggal.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Israel membebaskan 183 tahanan Palestina. Dari jumlah itu, 18 orang sebelumnya menjalani hukuman seumur hidup. Otoritas Israel menangkap sebagian besar dari mereka sejak 7 Oktober tanpa mengajukan dakwaan resmi.

Gencatan Senjata Terancam Gagal Total

Ketegangan semakin memuncak. Hamas dan Israel menandatangani perjanjian di Qatar bulan lalu yang mewajibkan mereka memulai negosiasi tahap kedua pertukaran tahanan pada Senin mendatang. Namun, eskalasi konflik yang terus berlanjut mengancam proses tersebut.

Hamas menuduh Israel menghalangi masuknya pasokan kebutuhan yang sudah menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata.

Situasi yang semakin memanas memicu kekhawatiran akan pecahnya kembali perang di Gaza. Jika kondisi ini terus berlanjut, gencatan senjata yang berlaku sejak Januari 2025 bisa sepenuhnya runtuh.

Pos terkait