Pelajar Imigran di Minneapolis Kembali Jalani PJJ Akibat Operasi ICE

Pelajar Imigran di Minneapolis Kembali Jalani PJJ Akibat Operasi ICE

Faktaindonesianews.com – Sejumlah pelajar dan mahasiswa dari komunitas imigran di Minneapolis, Amerika Serikat, kembali menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring. Kondisi ini muncul akibat situasi yang dinilai tidak kondusif menyusul maraknya operasi petugas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat atau Immigration and Customs Enforcement (ICE) di kawasan tersebut.

Beberapa pelajar, seperti Esmeralda (14), Kevin (12), dan Carlos, sudah mengikuti PJJ selama beberapa pekan terakhir. Mereka belajar dari sebuah unit apartemen sederhana yang disulap menjadi ruang kelas dadakan. Meja makan berfungsi ganda sebagai meja belajar, sementara komputer menjadi satu-satunya penghubung dengan sekolah.

Bacaan Lainnya

“Kalau saya keluar, itu hanya di lorong,” ujar Kevin, menggambarkan ketatnya pembatasan aktivitas di luar rumah.

Esmeralda menyebut rutinitas belajar daring terasa monoton dan melelahkan. “Kelas terus-menerus, lalu makan siang, setelah itu kembali ke depan komputer untuk mengerjakan tugas,” katanya sambil mengikuti pelajaran tentang fosil.

Bagi mereka, rumah kini tak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga terasa seperti bunker. Interaksi dengan teman sekolah pun berubah drastis. “Kami bisa bertemu, tapi tidak benar-benar bersama. Rasanya sangat berbeda dibandingkan bertemu langsung,” kata Kevin.

PJJ kembali diterapkan untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 berakhir, khususnya bagi keluarga imigran yang memilih bertahan di rumah demi menghindari risiko deportasi massal pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump.

Ibunda Kevin, Abril, memutuskan anak-anaknya tidak keluar rumah sejak sekolah Esmeralda didatangi petugas ICE sebulan lalu. Keluarga ini merupakan imigran asal Meksiko yang datang ke Amerika Serikat sekitar satu setengah tahun lalu untuk mengajukan suaka dan masih menunggu keputusan hukum.

“Anak-anak bertanya kenapa ini terjadi, kenapa kami harus bersembunyi padahal tidak melakukan kesalahan,” ujar Rigoberto, ayah mereka, yang bekerja sebagai mekanik.

Tekanan psikologis juga dirasakan Abril. Ia mengaku sulit tidur, cemas keluar rumah, bahkan menutup tirai jendela selama lima minggu. Kondisi ekonomi keluarga memburuk setelah Abril dan Rigoberto kehilangan pekerjaan karena takut terjaring operasi ICE. Beruntung, bantuan datang dari tetangga yang bersedia membantu memenuhi kebutuhan pangan.

“Sebagai kepala keluarga, ini sangat berat karena saya tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Rigoberto. “Kami mungkin bisa keluar rumah, tapi rasa takut itu akan selalu ada.”

Pos terkait