Pemkot Bandung Sosialisasikan Proyek BRT di 22 Kecamatan, Warga Diajak Terlibat Sejak Awal

Pemkot Bandung Sosialisasikan Proyek BRT di 22 Kecamatan, Warga Diajak Terlibat Sejak Awal

Faktaindonesianews.com, Bandung – Pemerintah Kota Bandung mulai mempersiapkan langkah strategis dalam pembangunan sistem transportasi massal Bus Rapid Transit (BRT). Salah satu tahapan awal yang akan segera dilakukan adalah sosialisasi kepada masyarakat di wilayah terdampak, yang mencakup 22 kecamatan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Rasdian Setiadi, menyampaikan bahwa sosialisasi ini menjadi kunci penting sebelum proyek pembangunan BRT benar-benar dimulai, khususnya pada jalur utama atau on-corridor yang berpotensi menimbulkan dampak langsung di lapangan.

Bacaan Lainnya

Sosialisasi Menyeluruh Libatkan Semua Elemen Masyarakat

Rasdian menegaskan bahwa proses sosialisasi tidak dilakukan secara parsial, melainkan menyeluruh dan terintegrasi. Pemerintah akan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tingkat kelurahan, RT/RW, hingga pedagang kaki lima dan pihak lain yang terdampak.

Kita libatkan semua pihak agar memahami rencana pembangunan ini secara utuh,” ujarnya usai rapat koordinasi bersama Kementerian Perhubungan, World Bank, dan konsultan di Balaikota.

Langkah ini diharapkan mampu membangun komunikasi yang terbuka sekaligus meminimalisir potensi penolakan dari masyarakat.

Fokus pada Jalur On-Corridor Sepanjang 21 Kilometer

Dalam rencana pembangunan BRT, jalur on-corridor menjadi perhatian utama karena memiliki potensi dampak terbesar. Jalur ini diperkirakan membentang sepanjang kurang lebih 21 kilometer dan melintasi sejumlah wilayah strategis.

Beberapa kecamatan yang termasuk dalam jalur tersebut antara lain Andir, Regol, dan Sumur Bandung. Di kawasan ini, perubahan tata ruang jalan akan cukup signifikan, terutama dengan hadirnya jalur khusus BRT.

Desain Jalur Khusus dengan Separator Rendah

Untuk mendukung operasional BRT, pemerintah merencanakan pembangunan jalur khusus yang dipisahkan menggunakan separator. Desain pembatas ini dibuat tidak terlalu tinggi agar tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.

Menurut Rasdian, penting bagi masyarakat untuk memahami sejak awal bentuk perubahan yang akan terjadi, sehingga proses adaptasi dapat berjalan lebih lancar.

Masyarakat harus tahu sejak awal, termasuk dampak dan penanganannya,” jelasnya.

Target Sosialisasi Dimulai Akhir April 2026

Dinas Perhubungan menargetkan sosialisasi akan mulai dilaksanakan paling lambat akhir April hingga awal Mei 2026. Dalam proses ini, Pemkot Bandung juga akan menampung aspirasi masyarakat sebagai bahan evaluasi sebelum pembangunan dimulai.

Selain itu, berbagai dampak sosial seperti penataan ulang aktivitas di ruang jalan dan penyesuaian bagi pihak terdampak akan menjadi perhatian utama pemerintah.

Dorong Transportasi Publik Modern dan Terintegrasi

Proyek BRT menjadi bagian dari upaya besar Pemkot Bandung dalam menghadirkan sistem transportasi publik yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan. Dengan adanya BRT, diharapkan mobilitas warga menjadi lebih mudah sekaligus mengurangi kemacetan di pusat kota.

Keterlibatan masyarakat sejak tahap awal dinilai menjadi faktor penting agar proyek ini dapat berjalan lancar dan sesuai harapan.

Pos terkait