Rasio Gini Bandung Turun Jadi 0,42, Farhan: Ketimpangan Masih di Atas Nasional

Rasio Gini Bandung Turun Jadi 0,42, Farhan: Ketimpangan Masih di Atas Nasional

Faktaindonesianews.com, Bandung – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan rasio gini Kota Bandung mengalami penurunan dari 0,44 menjadi 0,42. Meski begitu, angka tersebut masih berada di atas rata-rata nasional sehingga menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.

“Ini tantangan. Walaupun turun, masih jauh di atas standar nasional,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Kamis (19/2/2025).

Bacaan Lainnya

Penurunan rasio gini memang menunjukkan adanya perbaikan distribusi pendapatan. Namun, Farhan mengingatkan bahwa turunnya angka kemiskinan tidak otomatis menghapus persoalan ketimpangan. Ia mencontohkan adanya pergerakan warga dari kelompok desil 1–5 ke desil 6. Secara statistik, hal itu terlihat sebagai kemajuan. Akan tetapi, di sisi lain muncul risiko baru, terutama terkait akses terhadap bantuan sosial yang selama ini menyasar kelompok paling bawah.

Selain isu ketimpangan ekonomi, Farhan juga menyoroti persoalan stunting yang masih berkaitan erat dengan sanitasi lingkungan. Berdasarkan pemantauan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) dan Laci RW, sekitar 27 persen rumah di Kota Bandung belum memiliki septic tank. Limbah rumah tangga pun masih banyak dibuang langsung ke sungai.

Kondisi tersebut berdampak pada tingginya kasus diare, yang menjadi salah satu faktor penyebab stunting pada anak. Tidak hanya itu, rumah tidak layak huni (rutilahu) dengan ventilasi dan pencahayaan buruk turut memicu meningkatnya kasus tuberkulosis (TBC).

Menurut Farhan, persoalan septic tank bukan perkara sederhana. Banyak rumah di gang sempit memiliki toilet di bagian belakang yang langsung menghadap sungai. Untuk memindahkan saluran ke septic tank komunal di depan rumah, warga membutuhkan biaya sekitar Rp5 juta—angka yang cukup memberatkan.

Sebagai solusi, Pemkot Bandung menghadirkan inovasi biotank. Jika sebelumnya septic tank komunal untuk 3–5 rumah menelan biaya Rp21 juta, kini dapat ditekan menjadi sekitar Rp15 juta. Biotank ini juga lebih praktis karena tidak perlu disedot rutin, cukup menggunakan cairan pengurai sekitar Rp60 ribu setiap tiga bulan.

Ke depan, Pemkot menyiapkan skema subsidi serupa program rutilahu guna membantu pembiayaan pemindahan saluran toilet warga.

Pos terkait