Bandung, Faktaindonesianews.com – Faktaindonesianews.Ahmad Sahroni, PSI, Ronald Sinaga, Politik Kolaboratif, Pencitraan, Silaturahmi Politik, NasDem, Partai Solidaritas Indonesia
Silaturahmi Politik di Era Cair
Silaturahmi politik sering kali lebih bermakna daripada deklarasi. Pertemuan antara Ahmad Sahroni, Bendahara Umum Partai NasDem, dengan Wakil Ketua Umum PSI, Ronald Sinaga, beberapa waktu lalu, membuka kembali diskursus tentang wajah politik Indonesia yang makin cair, luwes, dan strategis.
Tanpa publikasi besar, pertemuan itu menimbulkan banyak tafsir. Ada yang menilai sekadar temu sahabat lama, tapi ada pula yang membaca sinyal perubahan arah. Dalam politik, kata “silaturahmi” jarang benar-benar bebas dari maksud.
Politik Kolaboratif yang Mulai Mencari Bentuk
Partai-partai muda seperti PSI sedang mencari pola baru — kolaborasi lintas partai tanpa harus melebur struktur.
Ahmad Sahroni, dengan daya jangkau sosial dan finansialnya, mewakili wajah entrepreneur-politician modern yang menarik dijajaki.
Silaturahmi seperti ini bisa menjadi uji resonansi awal untuk membangun politik kolaboratif lintas batas, terutama menjelang dinamika pasca-Pemilu dan Pilkada serentak 2025.
PSI yang tengah menata ulang kepemimpinan pasca-transisi, tentu membutuhkan jejaring figur publik yang kuat.
Sedangkan NasDem, di tengah tekanan konsolidasi koalisi, bisa menggunakan momentum ini sebagai simbol keterbukaan politik.
Antara Pencitraan dan Manuver
Harus diakui, politik silaturahmi juga sarat dengan strategi pencitraan.
Bagi PSI, tampil bersama tokoh seperti Sahroni memberi value optics: partai ini terlihat akrab dengan elite muda yang sukses dan punya rekam jejak sosial.
Bagi Sahroni, pertemuan ini menjaga eksistensinya sebagai jembatan antara kekuasaan dan masyarakat sipil, tanpa harus berpindah perahu politik. Inilah wujud politik baru: lebih cair, lebih visual, tetapi penuh kalkulasi.
Publik Butuh Arah, Bukan Sekadar Foto Publik yang sudah jenuh dengan simbol politik ingin melihat hasil nyata, bukan sekadar foto silaturahmi yang viral di media sosial. Pertanyaannya sederhana: Apa manfaat pertemuan itu bagi rakyat?
Jika dari pertemuan ini lahir gagasan tentang transparansi, etika kekuasaan, atau kolaborasi sosial lintas partai, maka silaturahmi semacam ini justru menyehatkan demokrasi. Namun, bila hanya menjadi panggung pencitraan baru tanpa isi, ia akan lenyap seperti kabar seremonial lainnya.
Epilog: Politik yang Menyapa, Bukan Menipu Silaturahmi politik tidak perlu dicurigai, selama dijalankan dengan kejelasan niat dan manfaat. Karena di ujungnya, rakyat tidak menagih siapa bersalaman dengan siapa Rakyat hanya menagih, apa yang berubah setelah tangan itu berjabat.
(djohar)






