Gempa M 7,8 Filipina Jadi Alarm Serius bagi Indonesia, Ahli Ingatkan Ancaman Megathrust Timur Nusantara

Faktaindonesianews.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah selatan Filipina dan turut dirasakan di sejumlah daerah di Sulawesi Utara pada 8 Juni 2026 menjadi perhatian serius para ahli kebencanaan. Peristiwa tersebut dinilai bukan sekadar gempa biasa, melainkan sinyal kuat yang mengingatkan akan besarnya potensi aktivitas tektonik di kawasan timur Indonesia.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menyebut gempa besar tersebut harus dipahami sebagai bagian dari proses geologi yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Menurutnya, energi yang dilepaskan saat gempa hanyalah sebagian kecil dari akumulasi tekanan yang tersimpan di bawah permukaan laut.

Bacaan Lainnya

“Peristiwa ini adalah alarm keras, bukan hanya bagi Filipina, tetapi juga bagi Indonesia,” ujar Daryono dalam keterangannya.

Kawasan Timur Indonesia Termasuk Wilayah Tektonik Paling Kompleks

Daryono menjelaskan bahwa wilayah selatan Filipina hingga Sulawesi Utara merupakan salah satu kawasan dengan tingkat kompleksitas tektonik tertinggi di dunia. Daerah ini menjadi titik pertemuan berbagai sistem subduksi aktif yang terus bergerak dan saling berinteraksi.

Beberapa sumber gempa utama di kawasan tersebut antara lain Subduksi Lempeng Laut Filipina, Subduksi Cotabato, serta Subduksi Ganda Laut Maluku. Ketiga sistem ini bekerja secara bersamaan dan menciptakan tekanan besar di dalam kerak bumi.

Di zona-zona subduksi tersebut, lempeng tektonik saling bertumbukan dan bergerak perlahan selama puluhan hingga ratusan tahun. Energi yang terkunci kemudian terus menumpuk hingga akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa bumi besar.

Ketika tekanan yang tersimpan melampaui batas kemampuan batuan untuk menahannya, maka terjadilah patahan yang memicu gempa kuat dan dalam beberapa kasus dapat memunculkan tsunami.

Subduksi Filipina dan Cotabato Jadi Sumber Ancaman

Salah satu sistem yang mendapat perhatian adalah Zona Subduksi Lempeng Laut Filipina yang memiliki tingkat konvergensi atau pergerakan lempeng yang sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan kawasan tersebut sering mengalami aktivitas seismik dan memiliki potensi tsunami yang signifikan.

Selain itu, terdapat pula Subduksi Cotabato di bagian selatan Filipina. Meski memiliki area yang relatif lebih sempit dibandingkan zona subduksi lain, wilayah ini tetap aktif dan menunjukkan karakter geologi yang kompleks.

Aktivitas di zona ini menghasilkan berbagai deformasi kerak bumi, termasuk pembentukan sesar naik dan sesar geser yang berpotensi memicu gempa dangkal dengan dampak merusak.

Menurut Daryono, karakteristik tersebut menjadikan kawasan Cotabato sebagai salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus dalam pemantauan aktivitas seismik.

Laut Maluku Miliki Fenomena Langka Subduksi Ganda

Di kawasan Laut Maluku, terdapat fenomena geologi yang sangat jarang ditemukan di dunia, yaitu sistem subduksi ganda.

Dalam sistem ini, Lempeng Laut Maluku mengalami proses penunjaman ke dua arah sekaligus. Bagian barat lempeng bergerak ke bawah Busur Sangihe, sementara bagian timur masuk ke bawah Busur Halmahera.

Kondisi tersebut menciptakan proses yang dikenal sebagai arc-arc collision atau tumbukan dua busur kepulauan. Akibatnya, kawasan ini mengalami deformasi kerak yang sangat intens, penebalan lapisan bumi, serta aktivitas gempa yang kompleks dengan kedalaman yang bervariasi.

Fenomena ini membuat Laut Maluku menjadi salah satu laboratorium alami bagi para ilmuwan untuk mempelajari dinamika tektonik bumi yang sangat aktif.

Potensi Gempa Besar hingga Magnitudo 8,2

Interaksi antara berbagai sistem subduksi tersebut membentuk mosaik tektonik yang dinamis dan terus berkembang. Dampaknya, wilayah Maluku Utara, Sulawesi Utara, hingga Filipina memiliki tingkat risiko geologi yang sangat tinggi.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki potensi menghasilkan gempa bumi berkekuatan besar dengan magnitudo yang dapat mencapai 8,2.

Potensi tersebut tidak hanya meningkatkan ancaman gempa merusak, tetapi juga membuka kemungkinan terjadinya tsunami yang dapat berdampak luas terhadap wilayah pesisir di Indonesia maupun Filipina.

Meski memiliki tingkat bahaya yang tinggi, Daryono menilai kawasan ini masih belum mendapatkan perhatian sebesar zona megathrust Sumatra maupun megathrust Jawa yang selama ini lebih sering menjadi fokus pembahasan publik.

Megathrust Timur Indonesia Dinilai Masih Terlupakan

Menurut Daryono, ancaman gempa besar di kawasan timur Indonesia seharusnya menjadi perhatian nasional. Ia menilai sistem subduksi yang membentang dari Laut Maluku hingga Filipina selama ini kurang mendapatkan sorotan dibandingkan wilayah lain yang lebih populer dalam kajian kebencanaan.

Padahal, aktivitas tektonik yang terjadi di kawasan tersebut menunjukkan karakter yang sangat aktif dan menyimpan energi besar yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan dalam bentuk gempa bumi kuat.

Karena itu, peningkatan edukasi kebencanaan, penguatan sistem peringatan dini, serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko apabila terjadi bencana di masa mendatang.

Pos terkait