Faktaindonesianews.com – Gerakan Palestina Hamas menyampaikan duka mendalam atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung utama perjuangan mereka. Dalam pernyataan resmi yang dikutip kantor berita Agence France-Presse, Hamas menyebut kematian Khamenei sebagai dampak dari serangan yang mereka cap sebagai tindakan “keji” oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dalam keterangan tertulisnya, Hamas menegaskan bahwa Khamenei telah memberikan dukungan politik, diplomatik, dan militer secara konsisten kepada rakyat Palestina. Dukungan itu, menurut mereka, menjadi fondasi penting dalam memperkuat gerakan perlawanan terhadap Israel.
“Kami di Hamas berduka atas meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei. Beliau memberikan semua bentuk dukungan kepada rakyat kami, perjuangan kami, dan perlawanan kami,” tulis Hamas dalam pernyataannya.
Tak hanya menyampaikan belasungkawa, Hamas juga melontarkan tudingan keras terhadap Washington dan Tel Aviv. Mereka menyebut Amerika Serikat dan pemerintah Israel bertanggung jawab penuh atas apa yang mereka gambarkan sebagai agresi terang-terangan terhadap kedaulatan Iran. Hamas menilai insiden tersebut berpotensi memperburuk stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah yang selama ini sudah diliputi ketegangan geopolitik.
Sementara itu, sayap militer Hamas, Brigade Izz ad-Din al-Qassam, menggambarkan Khamenei sebagai “pendukung utama Poros Perlawanan.” Mereka menegaskan bahwa seluruh bentuk bantuan Iran selama beberapa dekade terakhir diberikan atas keputusan langsung sang pemimpin tertinggi dan berada di bawah pengawasannya.
Menurut Brigade Al-Qassam, dukungan substansial dari Iran menjadi faktor kunci dalam pengembangan taktik dan kapasitas militer perlawanan Palestina. Mereka bahkan mengaitkan dukungan tersebut dengan serangan besar pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel, yang mereka sebut sebagai salah satu pencapaian paling signifikan dalam sejarah konfrontasi mereka.
Di sisi lain, kelompok militan Jihad Islam Palestina juga mengutuk keras kematian Khamenei. Mereka menyebut peristiwa tersebut sebagai “kejahatan perang” dan menuding Amerika Serikat serta Israel melakukan serangan yang khianat dan jahat. Kelompok itu menilai tindakan tersebut dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Perkembangan ini menambah daftar panjang ketegangan antara Iran, Israel, dan sekutu-sekutunya. Reaksi keras dari Hamas dan kelompok bersenjata lainnya menunjukkan bahwa kematian Khamenei bukan sekadar kehilangan figur politik, tetapi juga berpotensi mengubah peta dinamika perlawanan di Timur Tengah.






