Faktaindonesianews.com – Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengecam keras tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu (1/3), Putin menyebut insiden tersebut sebagai pembunuhan “sinis” yang melanggar norma moralitas manusia dan hukum internasional.
Melalui catatan resmi yang dikirimkan kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan dipublikasikan oleh Kremlin, Putin menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Khamenei beserta anggota keluarganya. Ia menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan universal.
“Terimalah belasungkawa mendalam saya sehubungan dengan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Seyed Ali Khamenei, dan anggota keluarganya, yang dilakukan dengan pelanggaran sinis terhadap semua norma moralitas manusia dan hukum internasional,” demikian isi pesan Putin.
Media pemerintah Iran sebelumnya mengumumkan bahwa Khamenei wafat pada Sabtu dalam usia 86 tahun. Ia disebut tewas akibat serangan udara yang dikaitkan dengan Israel dan Amerika Serikat. Peristiwa ini langsung memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak serta meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dalam pesannya, Putin juga menyoroti peran besar Khamenei dalam membangun hubungan bilateral antara Moskow dan Teheran. Ia menggambarkan sosok tersebut sebagai negarawan terkemuka yang memiliki kontribusi signifikan dalam mempererat kerja sama kedua negara hingga mencapai level kemitraan strategis komprehensif.
“Di negara kami, Ayatollah Khamenei akan dikenang sebagai tokoh yang memberikan kontribusi pribadi besar dalam pengembangan hubungan persahabatan Rusia–Iran,” tegas Putin.
Hubungan Rusia dan Iran memang terjalin erat dalam berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, hingga militer. Kedua negara selama ini dikenal sebagai sekutu strategis, termasuk dalam dinamika konflik di Suriah, Irak, dan Ukraina. Rusia menjadi salah satu pemasok utama persenjataan ke Iran, sementara Teheran dilaporkan turut memasok drone dan peralatan militer lainnya ke Moskow.
Kedekatan ini juga membentuk poros kekuatan baru di kawasan Kaukasus dan Timur Tengah. Dengan wafatnya Khamenei, banyak pengamat menilai peta hubungan strategis tersebut berpotensi mengalami dinamika baru, terutama di tengah meningkatnya tekanan internasional.
Pernyataan Putin menunjukkan bahwa Rusia tidak hanya melihat kematian Khamenei sebagai kehilangan seorang pemimpin, tetapi juga sebagai ancaman terhadap stabilitas dan keseimbangan geopolitik regional.






