Faktaindonesianews.com, Bandung — Kehadiran IKEA di kawasan King’s Shopping Center menjadi angin segar bagi upaya menghidupkan kembali denyut ekonomi di pusat Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung melihat langkah ini sebagai momentum penting untuk membangkitkan kembali kawasan legendaris yang selama ini mengalami penurunan aktivitas ekonomi.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menilai kehadiran brand global tersebut sebagai strategi konkret untuk memicu pertumbuhan ekonomi di wilayah seperti Kepatihan, Dalem Kaum, hingga Asia Afrika. Ia menegaskan bahwa potensi kawasan pusat kota sebenarnya sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurut Farhan, saat ini kondisi sektor retail di pusat kota masih jauh dari ideal. Dari total potensi yang ada, baru sekitar 50 persen yang benar-benar aktif. Bahkan, kawasan Asia Afrika yang dikenal sebagai ikon kota justru lebih banyak ditopang oleh sektor perhotelan dibandingkan aktivitas retail.
“Asia Afrika sekarang ini yang hidup itu hotel saja. Retailnya belum optimal. Padahal ini kawasan ikonik yang seharusnya jadi magnet ekonomi dan wisata,” ujar Farhan saat menghadiri Grand Opening Pop-Up Store IKEA di King’s Shopping Center.
Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Dalem Kaum. Hanya sebagian pelaku usaha yang masih bertahan di tengah lesunya aktivitas perdagangan. Dalam konteks ini, King’s Shopping Center dinilai mulai menunjukkan geliat positif dan diharapkan menjadi contoh nyata kebangkitan ekonomi yang bisa diikuti kawasan lain.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemkot Bandung berkomitmen memberikan kemudahan perizinan bagi para pelaku usaha. Farhan menegaskan bahwa proses perizinan akan dipercepat selama seluruh persyaratan telah dipenuhi. Langkah ini diharapkan mampu menarik lebih banyak investor untuk kembali menanamkan modal di pusat kota.
“Kita ingin semua pelaku bisnis merasa dipermudah. Kalau syarat sudah dipenuhi, izin akan kita berikan dengan cepat. Ini penting untuk menghidupkan kembali kawasan yang sempat lesu,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan strategi jangka menengah untuk melakukan revitalisasi kawasan. Setelah penataan ulang di kawasan Kosambi Simpang Lima rampung dalam waktu sekitar satu tahun, fokus berikutnya akan diarahkan ke koridor Asia Afrika.
Program penataan tersebut mencakup pembenahan tampilan gedung (face lift), pembersihan vandalisme, hingga pengawasan berkelanjutan terhadap perusakan fasilitas publik. Upaya ini bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih bersih, aman, dan menarik bagi masyarakat maupun investor.
“Kita akan bersihkan tampilan gedung, hilangkan vandalisme dan jaga terus. Kalau ada yang merusak akan kita tindak. Ini bagian dari membangun kembali kepercayaan terhadap kawasan pusat kota,” tutup Farhan.
Dengan berbagai langkah strategis ini, Pemkot Bandung optimistis pusat kota dapat kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi dan destinasi wisata unggulan. Kehadiran IKEA pun diharapkan menjadi pemicu awal kebangkitan yang lebih luas dan berkelanjutan.






