Kecelakaan Maut KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, 14 Orang Tewas

Kecelakaan Maut KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, 14 Orang Tewas

Faktaindonesianews.com, Bekasi – Kecelakaan tragis yang melibatkan Kereta Rel Listrik (KRL) dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam.

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Perhubungan, insiden bermula ketika KRL relasi Bekasi–Cikarang menabrak sebuah taksi listrik di perlintasan sebidang Jalur Perlintasan Langsung (JPL) 85 kawasan Bulak Kapal.

Bacaan Lainnya

Taksi tersebut dilaporkan berhenti di tengah rel saat KRL melintas, sehingga tabrakan tidak terhindarkan.

Rangkaian KRL Terganggu dan Berstatus Perjalanan Luar Biasa

Akibat tabrakan awal, rangkaian KRL mengalami gangguan operasional dan harus dievakuasi. Kereta tersebut kemudian ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berjalan di luar jadwal normal.

Sebagai langkah pengamanan, petugas menghentikan satu rangkaian KRL lain, yakni PLB 5568, di peron Stasiun Bekasi Timur.

KA Argo Bromo Anggrek Tak Sempat Berhenti

Situasi semakin memburuk ketika KA Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya. Kereta tersebut kemudian terlibat insiden dengan KRL PLB 5568 yang sedang berhenti di stasiun, memperparah dampak kecelakaan.

Evakuasi Dilakukan Bertahap dan Hati-Hati

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk memastikan proses evakuasi berjalan optimal.

Evakuasi korban dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian guna menghindari risiko tambahan, dengan mempertimbangkan kondisi rangkaian kereta serta keselamatan petugas di lapangan.

“Kami mendukung penuh investigasi yang dilakukan oleh KNKT untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan ini secara objektif,” ujar Dudy.

KNKT Lakukan Investigasi Menyeluruh

Pemerintah melalui Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan melakukan investigasi independen untuk mengetahui penyebab utama kecelakaan. Hasil investigasi ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi sistem transportasi kereta api di Indonesia.

Korban Jiwa dan Posko Darurat

Hingga Selasa (28/4) siang, tercatat sebanyak 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka. Seluruh korban telah dievakuasi oleh tim gabungan.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Mohammad Syafii, memastikan tidak ada lagi korban yang terjebak di dalam rangkaian kereta.

Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) membuka posko darurat selama 14 hari di Stasiun Gambir dan Stasiun Bekasi Timur guna membantu penanganan korban serta keluarga terdampak.

Pos terkait