Jakarta, Faktaindonesianews.com — Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, kembali menerima gelar doktor honoris causa, menambah daftar gelar kehormatan yang disandangnya menjadi 14. Kali ini, gelar tersebut diberikan oleh Princess Nourah bint Abdulrahman University (PNU) di Riyadh, Arab Saudi, Senin (9/2/2026).
Dengan penganugerahan ini, Megawati tercatat sebagai tokoh pertama non–warga negara Arab Saudi yang menerima gelar kehormatan dari PNU, universitas perempuan terbesar di dunia. Dari total 14 gelar kehormatan yang diraihnya, 11 merupakan doktor honoris causa dan tiga lainnya guru besar honoris causa, yang diperoleh dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
Dalam pidatonya di hadapan sivitas akademika PNU, Megawati menekankan pentingnya peran perempuan dalam membangun peradaban bangsa. Ia menyebut PNU bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan simbol kemajuan perempuan dalam ilmu pengetahuan dan pengabdian sosial.
“Kita berkumpul di Princess Nourah bint Abdulrahman University, sebuah universitas yang berdiri sebagai simbol kemajuan perempuan dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Megawati.
Megawati menilai negara yang mengabaikan peran perempuan dalam pengambilan keputusan strategis berisiko kehilangan keseimbangan sosial, moral, dan peradaban. Menurut dia, pembangunan negara tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan seluruh potensi kemanusiaan, termasuk perempuan.
Ia juga menegaskan pandangannya mengenai makna negara. Bagi Megawati, negara tidak boleh dipahami semata sebagai struktur administratif atau kekuasaan politik, melainkan sebagai entitas peradaban yang hidup, bertumpu pada nilai, sejarah, dan tanggung jawab moral.
“Negara yang besar adalah negara yang mampu menghimpun seluruh potensi kemanusiaannya. Negara yang kuat adalah negara yang tidak membiarkan separuh dari kekuatan sosialnya berada di pinggir sejarah,” kata Megawati.
Sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia, Megawati menyampaikan pengalamannya selama memimpin pemerintahan. Ia menilai keterlibatan perempuan secara langsung berpengaruh terhadap kualitas kebijakan publik dan arah pembangunan nasional.
Namun, Megawati mengingatkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak boleh dipersempit hanya pada persoalan keterwakilan jabatan atau angka statistik semata. Yang jauh lebih penting, kata dia, adalah keterlibatan perempuan secara bermakna dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan negara.
“Pemberdayaan perempuan bukanlah ancaman terhadap nilai, budaya, atau tradisi. Justru sebaliknya, ia merupakan syarat bagi negara yang percaya pada masa depannya sendiri,” ujarnya.
Penganugerahan doktor honoris causa dari PNU ini tidak hanya menjadi pengakuan atas kiprah Megawati di tingkat global, tetapi juga mempertegas pesan universal tentang pentingnya peran perempuan dalam kepemimpinan, kebijakan publik, dan pembangunan peradaban. Momentum ini sekaligus menempatkan Megawati sebagai salah satu tokoh perempuan dunia yang konsisten menyuarakan kesetaraan dan keadilan dalam kehidupan bernegara.






