Faktaindonesianews.com, Tasikmalaya – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tasikmalaya mendadak menjadi sorotan publik. Hal ini dipicu oleh beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan menu makanan siswa dengan kondisi daging ayam yang masih mentah dan berdarah.
Peristiwa tersebut terjadi di SMPN 3 Sukahening, Kecamatan Sukahening, pada Senin (6/4/2026). Dalam video yang viral, sejumlah siswa tampak menunjukkan paket makanan berisi ayam yang belum matang, lengkap dengan lalapan seperti selada bokor, timun, tempe, dan buah lengkeng.
Temuan Ayam Mentah Picu Kekecewaan
Penanggung jawab MBG di sekolah tersebut, Abdul Wahab, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengaku sangat kecewa dengan kualitas makanan yang disediakan.
“Iya benar, menu kemarin daging ayamnya masih mentah. Kami kecewa, bukan hanya soal kualitas, tapi juga pengiriman yang sering terlambat,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (7/4/2026).
Menurut Wahab, pihak sekolah telah mencoba menghubungi pengelola dapur melalui Asisten Lapangan hingga Kepala Dapur. Namun, upaya tersebut tidak mendapatkan respons.
“Saya sudah hubungi Aslap, tidak diangkat. Kepala dapur juga tidak aktif. Bahkan protes di grup koordinasi pun tidak ditanggapi,” keluhnya.
Setengah Porsi Diduga Tak Layak Konsumsi
Situasi semakin memprihatinkan ketika diketahui bahwa dari total 216 porsi makanan yang dibagikan, sekitar setengahnya diduga dalam kondisi tidak layak konsumsi karena ayam masih berdarah.
Respons cepat justru datang dari aparat setempat, yakni Babinsa Desa Kudadepa yang langsung menindaklanjuti keluhan pihak sekolah.
Tak hanya itu, masalah juga berlanjut pada hari berikutnya. Distribusi makanan kembali mengalami keterlambatan pada Selasa (7/4/2026), menambah kekecewaan pihak sekolah terhadap penyedia layanan MBG.
Desakan Evaluasi Penyedia Dapur
Pihak sekolah kini mendesak adanya evaluasi serius terhadap penyedia makanan, yakni Yayasan Abu Bakar Ash Siddiq Al-Khairiyyah melalui dapur SPPG Kudadepa.
Wahab bahkan menyarankan agar pengelolaan dapur dikembalikan ke penyedia sebelumnya di Sundakerta jika masalah terus berulang.
“Kalau terus begini, kami ingin dikembalikan ke dapur sebelumnya. Pelayanan sekarang sangat mengecewakan,” tegasnya.
Kompensasi Diganti Makanan Kering
Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak pengelola dapur akhirnya memberikan menu pengganti berupa makanan kering. Siswa menerima paket berisi dua roti, susu cair full cream, dan buah jeruk.
Meski demikian, kejadian ini menjadi catatan serius dalam pelaksanaan program MBG yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi siswa.






