Faktaindonesianews.com, Bandung – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendorong sektor ritel agar mengambil peran lebih besar dalam mengurangi angka kemiskinan melalui penciptaan lapangan pekerjaan dan pengembangan peluang usaha bagi masyarakat. Menurutnya, industri ritel memiliki potensi besar untuk memperkuat perekonomian daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Harapan tersebut disampaikan Farhan saat menghadiri National Kick-Off Hari Ritel Nasional (HRN) 2026 di Amanda Supermarket, Cihampelas Walk (Ciwalk), Bandung, Senin, 2 November 2026.
Dalam kesempatan itu, Farhan menyoroti pentingnya memperkuat kontribusi sektor perdagangan dan ritel terhadap penyediaan lapangan kerja. Ia menilai, salah satu persoalan yang masih perlu mendapatkan perhatian dalam strategi pengentasan kemiskinan di Kota Bandung adalah terbatasnya kontribusi penciptaan kesempatan kerja dan peluang usaha.
Menurut Farhan, pemerintah tidak cukup hanya menjalankan program bantuan sosial untuk mengatasi kemiskinan. Upaya tersebut juga harus dibarengi dengan pembukaan akses pekerjaan dan kesempatan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif.
“Dari tiga strategi penanganan kemiskinan di Kota Bandung, yang paling lemah justru adalah kesempatan pekerjaan. Porsi untuk pengentasan kemiskinan dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan lapangan usaha kontribusinya hanya lima persen,” ujar Farhan.
Sektor Ritel Dinilai Strategis untuk Mengurangi Kemiskinan
Farhan menjelaskan, sektor ritel mempunyai hubungan erat dengan aktivitas perdagangan, pariwisata, serta pertumbuhan ekonomi perkotaan. Perkembangan industri ini tidak hanya menghadirkan pusat perbelanjaan dan berbagai produk bagi konsumen, tetapi juga membuka kebutuhan tenaga kerja dalam berbagai bidang.
Mulai dari tenaga pelayanan, pengelolaan toko, distribusi barang, pergudangan, hingga kegiatan pemasaran, sektor ritel memberikan ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan.
Selain itu, keberadaan jaringan ritel juga dapat membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memasarkan produk mereka kepada konsumen yang lebih luas.
Karena itu, Farhan berharap pelaku industri ritel dapat memperkuat kemitraan dengan masyarakat dan pelaku usaha kecil. Kolaborasi tersebut dinilai mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat lebih merata.
Pemkot Bandung juga ingin memastikan pertumbuhan sektor perdagangan tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi turut memberikan dampak positif bagi masyarakat melalui kesempatan kerja dan pengembangan usaha.
Strategi Tourism, Trade, and Investment Jadi Andalan Bandung
Dalam pemaparannya, Farhan mengungkapkan bahwa struktur ekonomi Kota Bandung mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Pada periode 1970-an hingga 1990-an, sektor industri menjadi salah satu penggerak utama perekonomian. Namun, seiring perkembangan kota, sektor pariwisata kini memiliki peran semakin besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menyediakan kesempatan kerja.
Perubahan tersebut membuat Pemkot Bandung perlu menyesuaikan strategi pembangunan ekonomi dengan potensi yang dimiliki daerah.
Salah satu langkah yang dikembangkan adalah strategi Tourism, Trade, and Investment (TTI) atau pariwisata, perdagangan, dan investasi.
Melalui strategi tersebut, Pemkot Bandung berupaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, mendorong transaksi perdagangan, serta menarik investasi untuk memperluas kegiatan ekonomi.
Farhan menjelaskan, meningkatnya kunjungan wisatawan diharapkan dapat mendorong aktivitas belanja. Peningkatan transaksi kemudian menjadi daya tarik bagi investor untuk menanamkan modal dan mengembangkan usaha di Kota Bandung.
“Ketika transaksi dikalikan dengan jumlah wisatawan yang hadir, diharapkan akan mengundang investasi yang datang. Inilah tiga kunci strategi kami dalam memanfaatkan berbagai sektor ekonomi penggerak agar menyelesaikan berbagai masalah sosial,” jelasnya.
Strategi tersebut diharapkan mampu menciptakan efek berantai bagi perekonomian. Aktivitas pariwisata yang meningkat dapat menggerakkan perdagangan, sementara investasi dapat memperluas usaha dan membuka kesempatan kerja baru.
Pertumbuhan Ekonomi Bandung 5,8 Persen, Pemerataan Masih Jadi Tantangan
Farhan juga memaparkan kondisi perekonomian Kota Bandung yang mencatat pertumbuhan sebesar 5,8 persen pada semester pertama 2026.
Meski menunjukkan perkembangan positif, angka tersebut masih berada di bawah capaian pertumbuhan ekonomi sebelum pandemi Covid-19. Pada 2019, pertumbuhan ekonomi Kota Bandung tercatat mencapai 7,2 persen.
Menurut Farhan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan rumah pembangunan ekonomi tidak berhenti pada upaya meningkatkan angka pertumbuhan. Pemerintah juga harus memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.
Ia menilai, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan apabila masih terdapat ketimpangan sosial dan persoalan pengangguran.
Oleh sebab itu, kualitas pertumbuhan ekonomi perlu menjadi perhatian utama. Pemerintah harus mendorong sektor-sektor produktif yang mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya kelompok yang membutuhkan akses pekerjaan dan peluang usaha.






