Bandung, Faktaindonesianews.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman menegaskan bahwa Gerakan Pramuka harus memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus menyiapkan calon pemimpin masa depan. Menurutnya, Pramuka Jawa Barat harus menjadi “Kawah Candradimuka” Generasi Pancawaluya yang mampu melahirkan generasi berkualitas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Pernyataan tersebut disampaikan Herman saat menutup Perkemahan Terpadu dan Lomba Tingkat II (LT II) Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Situraja di Bumi Perkemahan Candra Singa Balingbing Dua, Desa Situraja, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, Rabu (26/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Herman mengingatkan bahwa kegiatan Pramuka sejak tingkat Siaga hingga Pandega memiliki keterkaitan erat dengan proses pembentukan jiwa kepemimpinan.
“Kalau digali lebih jauh, Pramuka itu adalah pemimpin. Bagaimana kalian sejak Siaga, Penggalang, Penegak, kemudian Pandega, menjadi para pemimpin, menjadi orang-orang yang berkarya,” ujar Herman.
Pramuka Harus Tinggalkan Dampak Nyata
Herman meminta kegiatan kepramukaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar memenuhi kewajiban organisasi. Setiap kegiatan harus memiliki hasil yang dapat dirasakan peserta, terutama dalam pembentukan karakter dan peningkatan kualitas diri.
“Pramuka bukan hanya formalitas ngagugurkeun kawajiban, harus ada tapaknya. Setiap kegiatan Pramuka harus ada tapaknya, paling tidak membangun karakter,” katanya.
Menurut Herman, keberhasilan sebuah perkemahan tidak cukup diukur dari kelancaran acara. Hal yang lebih penting adalah perubahan positif yang muncul setelah peserta kembali ke lingkungan masing-masing.
Karena itu, ia meminta para pembina memastikan kegiatan yang diikuti peserta memberikan bekal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Setelah pelaksanaan selesai maka lebih cageur lagi, lebih bageur lagi, lebih bener lagi, lebih pinter lagi dan lebih singer lagi. Kalau tidak, ya untuk apa kita melaksanakan Jambore? Untuk apa melaksanakan perkemahan terpadu. Jadi harus ada hasilnya,” tegasnya.
Lima karakter tersebut menjadi bagian penting dalam konsep Pancawaluya yang didorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai bagian dari pembangunan manusia dan penguatan jati diri generasi muda.
Dorong Lahirnya Generasi Pancawaluya
Herman juga mengajak seluruh peserta Pramuka di Jawa Barat menjadikan nilai-nilai Pancawaluya sebagai pedoman dalam kehidupan. Ia menilai pembentukan karakter sejak usia sekolah akan menjadi modal penting dalam menyiapkan generasi penerus.
“Semua tanpa terkecuali, yang ikut perkemahan terpadu harus menjadi generasi Pancawaluya. Agar bisa mewujudkan Sumedang Simpati, bisa mewujudkan Jabar Istimewa, agar bisa mewujudkan Indonesia yang Jaya,” ungkapnya.
Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga membutuhkan karakter, kepemimpinan, tanggung jawab, kedisiplinan, serta kemampuan beradaptasi dengan berbagai tantangan.
Dalam konteks tersebut, Gerakan Pramuka dinilai memiliki ruang yang kuat untuk membentuk peserta melalui berbagai aktivitas, termasuk perkemahan, kerja sama kelompok, kegiatan sosial, kedisiplinan, dan pembelajaran di alam terbuka.
Pramuka Disiapkan untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045
Herman berharap pembinaan generasi muda melalui Gerakan Pramuka dapat memberikan kontribusi terhadap cita-cita pembangunan jangka panjang Indonesia.
Ia menargetkan generasi yang dibentuk melalui kegiatan kepramukaan mampu menjadi sumber daya manusia berkualitas yang siap menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
“Jadi Pramuka bukan hanya formalitas. Kita bangun generasi muda yang lebih baik sehingga bisa menjemput masa depan melalui Gerakan Pramuka,” tutur Herman.
Menurutnya, investasi terhadap karakter generasi muda menjadi bagian penting dalam mempersiapkan Indonesia agar mampu menjadi salah satu negara maju di dunia.
Gerakan Pramuka, kata dia, dapat menjadi salah satu wadah untuk menanamkan nilai kepemimpinan dan tanggung jawab sejak dini. Peserta tidak hanya belajar melalui teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung melalui berbagai kegiatan bersama.
Diikuti 1.214 Peserta dan Pembina
Perkemahan Terpadu dan LT II Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Situraja diikuti peserta dari berbagai jenjang pendidikan. Tercatat 26 sekolah dasar, 10 SMP/MTs, serta 9 SMA/SMK berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Secara keseluruhan, kegiatan tersebut melibatkan 1.214 peserta dan pembina.
Jumlah peserta yang cukup besar tersebut menunjukkan kegiatan Pramuka masih menjadi salah satu ruang pembinaan generasi muda di tingkat daerah. Herman berharap pengalaman selama mengikuti perkemahan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir.
Ia ingin nilai-nilai yang diperoleh peserta dapat dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Herman kembali mengingatkan bahwa visi pembangunan Jawa Barat harus berjalan seiring dengan pembentukan jati diri generasi muda.
“Sebagaimana visi Jabar, yakni Pancawaluya ngajati diri. Pramuka Jabar Istimewa, jadi kalian semua harus menjadi generasi Pancawaluya. Kita gelorakan!” tegasnya.






