Kasus Air Keras Aktivis KontraS Masih Gelap, Perbedaan Versi Aparat Jadi Sorotan

Kasus Air Keras Aktivis KontraS Masih Gelap, Perbedaan Versi Aparat Jadi Sorotan

Faktaindonesianews.com – Kasus percobaan pembunuhan terhadap aktivis HAM Andrie Yunus masih menyisakan tanda tanya besar. Dua pekan setelah insiden penyiraman air keras di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, belum ada perkembangan signifikan dari Polda Metro Jaya dalam mengungkap pelaku secara tuntas.

Serangan terjadi pada Kamis malam (12/3), sesaat setelah Andrie menghadiri diskusi bertema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Ia disiram air keras oleh dua orang tak dikenal di Jalan Salemba I.

Bacaan Lainnya

Perbedaan Versi Polisi dan TNI

Penanganan kasus ini menjadi sorotan karena muncul perbedaan informasi antara pihak kepolisian dan militer. Tentara Nasional Indonesia melalui Puspom menyatakan telah mengamankan empat prajurit yang diduga terlibat, yakni berinisial NDP, SL, BHW, dan ES, yang bertugas di lingkungan Badan Intelijen Strategis (BAIS).

Namun, versi Polda Metro Jaya menyebut dua pelaku berinisial BHC dan MAK, sementara dua lainnya belum teridentifikasi. Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan besar terkait koordinasi antar lembaga dalam mengusut kasus serius tersebut.

Dampak ke Internal TNI

Di tengah sorotan publik, Kepala BAIS TNI Yudi Abrimantyo resmi menyerahkan jabatannya. Kepala Pusat Penerangan TNI Aulia Dwi Nasrullah menyebut langkah itu sebagai bentuk pertanggungjawaban institusional.

Meski demikian, hingga kini TNI belum membeberkan perkembangan lanjutan dari penyelidikan internal, termasuk peran pasti empat prajurit yang telah diamankan.

Kondisi Korban Mengkhawatirkan

Dari sisi medis, kondisi Andrie juga menjadi perhatian serius. Tim dokter di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo menemukan adanya iskemia atau kekurangan aliran darah pada bagian bawah sklera mata kanan sekitar 40 persen. Kondisi ini menyebabkan penipisan jaringan dan berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang pada penglihatan.

Desakan Tim Independen

Sejumlah pihak mendesak agar kasus ini diusut secara transparan. Ketua YLBHI Muhamad Isnur meminta Presiden membentuk tim investigasi independen guna menghindari konflik kepentingan.

Ia juga menegaskan pentingnya penanganan melalui peradilan umum, bukan militer, agar proses hukum berjalan terbuka dan akuntabel.

Presiden Sebut Aksi Terorisme

Presiden Prabowo Subianto menyebut serangan terhadap Andrie sebagai tindakan terorisme. Ia menegaskan aparat harus mengusut tuntas kasus ini, termasuk mengungkap aktor intelektual di baliknya.

“Ini adalah terorisme. Ini tindakan biadab. Harus kita kejar dan usut sampai tuntas,” tegas Prabowo.

Ia juga menjamin tidak akan ada impunitas, bahkan jika pelaku berasal dari aparat.

Pos terkait