Junanto menegaskan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan TPID hingga akhir tahun. Kerja sama tersebut diperlukan untuk mengantisipasi berbagai risiko kenaikan harga, terutama ketika permintaan masyarakat meningkat pada momentum hari besar dan periode libur panjang.
BPS Soroti Pengaruh Wisatawan dan Mobilitas Komuter
Sementara itu, Kepala BPS Kota Bandung, Nevi Hendri, menjelaskan bahwa karakteristik Bandung sebagai kota jasa membuat kebutuhan barang dan pangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk yang menetap.
Aktivitas wisatawan dan masyarakat komuter turut memberikan pengaruh terhadap tingkat permintaan. Nevi menyebut perjalanan wisatawan yang masuk ke Bandung mencapai sekitar dua juta setiap bulan.
Kondisi tersebut membuat perhitungan kebutuhan pangan harus mempertimbangkan seluruh aktivitas masyarakat yang datang dan beraktivitas di Kota Bandung.
“Kota Bandung sebagai kota jasa tidak hanya dipengaruhi permintaan penduduk lokal tetapi juga wisatawan dan penduduk komuter, kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan terutama bahan makanan sehingga ketersediaan pangan harus memperhitungkan seluruh aktivitas masyarakat masuk ke Kota Bandung,” ungkap Nevi.
Nevi juga menyoroti keberadaan dua pasar induk di Kota Bandung yang memiliki peran penting dalam menjaga distribusi bahan pangan. Menurutnya, fungsi pasar induk perlu dioptimalkan sebagai penghubung rantai pasok menuju pasar-pasar tradisional.
“Kita memiliki keuntungan strategis dengan adanya dua pasar induk. Bagaimana kita bisa memerankan fungsi pasar induk sebagai katalisator penjaga stabilitas rantai pasok ke pasar-pasar yang ada di Kota Bandung,” katanya.
Pemprov Jabar Beri Perhatian Khusus terhadap Inflasi Bandung
Kepala Biro Perekonomian Provinsi Jawa Barat, Budi Kurnia, menambahkan bahwa tingginya kompleksitas aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat membuat Kota Bandung memiliki banyak variabel dalam penghitungan inflasi.
Dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, Bandung menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus karena karakteristik aktivitas ekonominya cukup beragam.
“Dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, Kota Bandung memiliki kompleksitas variabel yang paling banyak dalam penghitungan inflasi. Oleh karena itu, kita fokus ke Kota Bandung,” ujar Budi.
Perhatian tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi antara pemerintah kota dan pemerintah provinsi dalam menjaga stabilitas harga, terutama menghadapi periode dengan potensi peningkatan permintaan masyarakat.






